TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Galih Priya Kartika Perdhana, memaparkan transformasi besar dalam tata kelola keimigrasian melalui konsep Smart Immigration Governance (SIG).
Langkah ini diambil untuk menekan angka pelanggaran orang asing serta memperkuat perlindungan terhadap Warga Negara Indonesia (WNI) dari ancaman Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Pengawasan Berbasis Analisis Prediktif
Galih Priya Kartika Perdhana menjelaskan bahwa meski layanan saat ini serba online, kehadiran fisik petugas tetap menjadi elemen krusial untuk menciptakan efek jera bagi pelanggar. Imigrasi kini mengintegrasikan big data dari data primer paspor dan visa dengan data sekunder seperti transaksi keuangan untuk melakukan pengawasan yang lebih tertarget.
“Kita harus bisa memilah mana yang mau kita awasi. Ada namanya big data yang bersumber dari data primer serta data sekunder. Kita bisa memilah subjek ataupun profil mana yang sekiranya bisa kita awasi karena berpotensi melakukan pelanggaran,” ujar Galih, kepada awak media usai Konferensi Pers Refleksi Akhir Tahun 2025 pada Jumat, 19 Desember 2025.
BACA JUGA : FOTO : Ngalau Gadang Butuh Masih Terisolir
Tiga Lapis Benteng Pencegahan TPPO
Dalam upaya perlindungan PMI (Pekerja Migran Indonesia), Galih menekankan penggunaan strategi tiga lapis (barrier) yang dimulai dari hulu hingga hilir:
– Level Desa: Edukasi melalui petugas Imigrasi Pembina Desa (Impasa) untuk menyadarkan warga akan tawaran kerja yang tidak masuk akal.
– Level Dokumen: Proses profiling ketat dan wawancara mendalam saat permohonan paspor.
– Level Perlintasan: Pemanfaatan teknologi face recognition pada autogate untuk mendeteksi subjek yang terindikasi akan berangkat secara non-prosedural.
“Ketika mungkin mereka lewat melalui autogate, itu akan terdeteksi. Face recognition akan mendeteksi, paspor akan mendeteksi. Jadi enggak lagi tugas tanya-tanya lagi,” jelasnya terkait otomatisasi pengawasan di bandara.
Kenaikan Perlintasan di Tahun 2025
Menjelang akhir tahun, Galih mengungkapkan adanya kenaikan total perlintasan di Bandara Soekarno-Hatta sebesar 8,3% secara year-on-year dibandingkan tahun 2024, dengan volume mencapai lebih dari 17 juta perlintasan.
Negara asal pengunjung terbanyak tercatat berasal dari Malaysia, Australia, dan Singapura. Namun, untuk kategori pelanggaran keimigrasian, warga negara Tiongkok dan Nigeria menjadi yang paling menonjol di wilayah kerja Soekarno-Hatta.
Guna mengantisipasi lonjakan libur Natal dan Tahun Baru, pihak imigrasi telah menyiagakan tim fast response untuk memastikan sistem digital tetap stabil.









