
Hal tersebut disampaikan Afriansyah Noor saat menghadiri peluncuran program Anak Muda untuk Dunia Kerja dan Wirausaha Digital Inklusif (ANDAL) yang digelar oleh YCAB Foundation di Jakarta, Selasa 25 Mei 2026.
Menurutnya, penyiapan generasi muda memasuki dunia kerja masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait akses pendidikan, pelatihan, dan pengembangan keterampilan yang belum merata.
Ia mengatakan pemerintah terus mendorong penguatan kebijakan ketenagakerjaan melalui perluasan akses pelatihan serta peningkatan kompetensi secara berkelanjutan agar tenaga kerja muda mampu bersaing di era digital.
“Pemerintah terus memperkuat transformasi pelatihan vokasi agar lebih responsif terhadap perkembangan industri dan kebutuhan pasar kerja,” kata Afriansyah.
Ia menambahkan, percepatan ekonomi digital harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dunia kerja.
Selain itu, Afriansyah juga menegaskan pentingnya prinsip inklusivitas dalam kebijakan ketenagakerjaan nasional, termasuk memperluas akses kesempatan kerja dan menciptakan lingkungan kerja yang bebas dari diskriminasi.
Kementerian Ketenagakerjaan, lanjut dia, juga terus memperkuat ekosistem ketenagakerjaan melalui berbagai program strategis, seperti pengembangan tenaga kerja mandiri, sistem informasi ketenagakerjaan berbasis digital melalui SIAPKerja, hingga program padat karya untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja di berbagai daerah.
Ia menilai penguatan ekosistem ketenagakerjaan membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan dan pelatihan, organisasi masyarakat sipil, hingga komunitas dan pemangku kepentingan lainnya









