Jenderal Dekat Netanyahu Sebut Israel Siapkan Serangan Pendahuluan ke Iran

Dilema Militer AS Stok Rudal Terkuras, Mampukah Washington Pertahankan Perang Berkelanjutan Melawan Iran
Jenderal Dekat Netanyahu Sebut Israel Siapkan Serangan Pendahuluan ke Iran

LENSABANTEN.CO.ID — Mayor Jenderal Uzi Dayan, sosok yang dikenal memiliki kedekatan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, mengungkapkan dalam sebuah wawancara televisi bahwa Israel tengah bersiap melancarkan serangan pendahuluan terhadap Iran. Menurutnya, langkah ini penting sebagai bentuk kebebasan bertindak secara militer dalam menghadapi apa yang ia sebut sebagai ancaman dari Teheran.

Dikutip dari Middle East Monitor, Rabu 19 Agustus 2026, Dayan menilai Israel kini tengah menghadapi “perang demi mempertahankan eksistensinya”. Ia juga mengingatkan bahwa negaranya tidak bisa sepenuhnya menggantungkan diri pada Amerika Serikat dalam menangani persoalan Iran.

Bacaan Lainnya

Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan yang belum mereda terkait program nuklir dan kekuatan militer Iran, sekaligus memicu perdebatan baru di dalam negeri Israel soal kemungkinan negara itu bertindak secara mandiri jika Washington dianggap tidak cukup tegas.

Sebelumnya, akhir Juli lalu, AS dan Israel dikabarkan mempertimbangkan opsi blokade darat terhadap Iran sebagai bagian dari strategi menambah tekanan ekonomi. Laporan The Telegraph pada Jumat (31/8/2026) menyebutkan opsi ini turut dibahas dalam pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Netanyahu di Ruang Oval, Gedung Putih.

Blokade darat disebut menjadi salah satu skema yang tengah dikaji Washington dan Tel Aviv guna mendorong Iran kembali ke meja perundingan. Namun, efektivitas rencana ini sangat bergantung pada kesediaan negara-negara tetangga Iran serta sekutu regionalnya untuk turut menutup jalur perbatasan, guna membendung arus keluar-masuk barang dari dan ke Iran.

Pemerintah AS sendiri menyadari bahwa negara seperti Pakistan dan Irak kemungkinan besar enggan mendukung langkah tersebut. Laporan itu turut mengingatkan bahwa negara-negara yang memilih mengikuti kebijakan Washington berisiko menghadapi dampak ekonomi maupun ancaman keamanan apabila Iran melakukan pembalasan.

Di sisi lain, Iran dikabarkan bersiap mengubah pendekatannya menjadi strategi “perlawanan total” setelah upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik dengan AS mengalami kebuntuan. Seorang pejabat senior Iran mengungkapkan rencana tersebut kepada Reuters dalam laporan Senin (17/8/2026), bertepatan dengan berakhirnya masa gencatan senjata 60 hari.

Presiden Trump memastikan tidak akan memperpanjang gencatan senjata tersebut, meski enggan membocorkan langkah selanjutnya. Sementara itu, Iran tetap menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz, sedangkan Angkatan Laut AS terus mempertahankan blokade lautnya terhadap Teheran.

Pejabat Iran itu menegaskan negaranya harus bersiap menghadapi eskalasi lebih lanjut. “Entitas Iran harus bersiap untuk meningkatkan eskalasi ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan yang lebih luas, Iran akan siap untuk mengambil keputusan dan aksi dalam mengambil keputusan sulit,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Teheran akan melancarkan aksi militer “secara tepat waktu dan tepat sasaran” guna menghentikan blokade laut AS apabila jalur diplomasi benar-benar menemui jalan buntu.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.