KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Kampung Darling di Jalan Janur Kuning, Kelurahan Sudimara Jaya, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, kini menjadi kampung tematik berbasis lingkungan yang menginspirasi banyak pihak. Kawasan yang dulunya hanya gang sempit dan padat tersebut telah bertransformasi menjadi lingkungan hijau dan bersih berkat partisipasi aktif warganya dalam pengelolaan sampah.
Perubahan signifikan mulai terlihat sejak 2019, saat Pemerintah Kota Tangerang meluncurkan program Kampung Tematik. Dalam salah satu sesi sosialisasi, hadir Bambang Irianto, penggerak Kampung Triji di Malang, yang menginspirasi warga setempat, termasuk Ketua RT 04/RW 11, Edi.
“Beliau berbicara dengan sangat nyata. Hati saya langsung tergerak untuk menciptakan keindahan seperti dia,” kata Edi, mengenang awal mula terbentuknya Kampung Darling, Minggu, 20 Juli 2025.
Pada 16 Juni 2019, kampung ini resmi ditetapkan sebagai Kampung Tematik. Setahun berselang, tepatnya pada 20 Februari 2020, Bank Sampah Darling didirikan sebagai langkah awal untuk membangun ekonomi sirkular berbasis sampah rumah tangga.
“Setiap rumah menghasilkan sampah, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Kita dorong masyarakat, kita ajak bahwa sampah sekecil apapun ada harganya,” ujar Edi.
Warga setempat tidak hanya memilah dan menjual sampah anorganik, tetapi juga mengolah limbah rumah tangga menjadi produk ramah lingkungan. Minyak jelantah dijadikan sabun cuci, kulit buah difermentasi menjadi eco-enzyme, dan kulit nanas diubah menjadi minuman probiotik. Selain itu, aroma daun mint dan serai turut memberi kesegaran alami di sekitar permukiman.
Hingga kini, Bank Sampah Darling tercatat memiliki 260 nasabah aktif. Setiap Minggu pagi, warga membawa sampah seperti plastik, kardus, dan logam untuk ditimbang secara detail. Hasil penjualannya dibagi dengan skema 70 persen untuk nasabah dan 30 persen untuk operasional serta program sosial kampung.
Dana tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan sosial seperti Rumahku Merdeka Sampah, Ramadan Suci Berbagi, hingga Berbagi Kasih untuk Ibu.
“Merubah mindset itu jauh lebih sulit daripada memilah sampah. Tapi saya mulai dari mereka yang mau dulu. Ketika mereka merasakan manfaatnya, mereka yang akhirnya menyebarkannya ke yang lain,” ungkap Edi.
Inisiatif warga Kampung Darling juga menarik perhatian pihak luar. PT PLN, PT Pegadaian, hingga masyarakat dari luar kota ikut menitipkan sampah untuk dikelola di Bank Sampah Darling. Menariknya, seluruh kegiatan dilakukan tanpa mengajukan proposal atau permintaan bantuan kepada instansi pemerintah maupun swasta.
“Sepenuhnya hanya lewat unggahan media sosial. Semangat dan karya warga kampunglah yang berbicara,” jelas Edi.
Berbagai penghargaan pun berhasil diraih. Kampung Darling masuk lima besar bank sampah terbaik nasional versi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2023, tergabung dalam jaringan Bank Sampah Komunitas Astra, dan dua tahun berturut-turut meraih predikat terbaik.
Namun, Edi menegaskan bahwa apresiasi bukanlah tujuan utama dari gerakan ini.
“Yang terpenting adalah kebermanfaatan. Sampah yang tadinya hanya jadi masalah, sekarang bisa jadi sumber kesejahteraan,” ujarnya.
Dari gang sempit yang hanya cukup dilalui satu sepeda motor, Kampung Darling telah membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil. Kini, kampung ini menjadi simbol harapan dan bukti nyata bahwa sampah pun bisa menjadi sumber kehidupan yang lebih baik.










