KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangerang mencatat inflasi tahunan pada Juli 2026 sebesar 2,01 persen. Sementara secara bulanan, Kota Tangerang justru mengalami deflasi sebesar 0,19 persen.
Angka inflasi tahunan tersebut turun dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 2,36 persen. Jika dibandingkan dengan Juli 2025, angka tersebut juga sedikit menurun dari 2,03 persen.
Kepala BPS Kota Tangerang, Muladi Widastomo, mengatakan perkembangan tersebut merupakan gambaran perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi tahun kalender atau year-to-date sebesar 0,73 persen.
“Pada bulan Juli tahun 2026, Kota Tangerang mencatatkan inflasi bulan ke bulan sebesar -0,19 persen atau kita sebut deflasi,” ujar Muladi, saat dikonfirmasi Lensa Banten pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Harga Cabai Jadi Penekan Utama
Deflasi pada Juli 2026 salah satunya dipengaruhi turunnya harga sejumlah komoditas pangan. Cabai merah menjadi komoditas yang paling besar menahan inflasi dengan penurunan harga sebesar 22,71 persen dan memberikan andil deflasi 0,09 persen.
Selain cabai merah, bawang merah, cabai rawit, telur ayam ras, daging ayam ras, dan tomat juga ikut menekan inflasi. Penurunan harga sejumlah bahan pangan tersebut membantu mendorong terjadinya deflasi di Kota Tangerang.
Muladi mengatakan penurunan harga cabai merah dan bawang merah sejalan dengan pergerakan harga pangan di tingkat nasional. Kondisi tersebut turut memberikan dampak terhadap harga komoditas pangan di Kota Tangerang.
“Sejumlah komoditas pangan di tingkat nasional menunjukkan pergerakan positif, ada penurunan harga, baik untuk harga cabai merah dan bawang merah,” jelasnya.
Bensin Justru Naik
Di sisi lain, terdapat sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga dan memberikan tekanan terhadap inflasi. Bensin menjadi komoditas dengan kenaikan terbesar secara bulanan, yakni 1,67 persen dengan andil inflasi sebesar 0,08 persen.
Selain bensin, roti manis juga mengalami kenaikan cukup tinggi dengan laju inflasi sebesar 9,18 persen. Komoditas lainnya yang ikut memberikan andil adalah timun, apel, kacang panjang, bawang putih, jengkol, minyak goreng, dan bayam.
Untuk kelompok makanan, roti manis menjadi komoditas dengan kenaikan harga paling tinggi. Sementara pada kelompok bukan makanan, bensin menjadi penyumbang inflasi terbesar di Kota Tangerang.
Emas Jadi Penyumbang Inflasi Tahunan
Jika dilihat secara tahunan, emas perhiasan menjadi komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi Kota Tangerang. Komoditas tersebut memberikan dampak inflasi sebesar 33,47 persen dengan andil sebesar 0,39 persen.
Selain emas, bensin, nasi dengan lauk, tarif rumah sakit, kontrakan rumah, minyak goreng, kue kering berminyak, telepon seluler, dan pepaya juga menjadi penyumbang inflasi tahunan. Sigaret kretek tangan turut masuk dalam daftar komoditas yang memberikan pengaruh terhadap inflasi.
Muladi juga menyoroti kenaikan harga bahan bakar yang masih memberikan dampak terhadap inflasi Kota Tangerang. Salah satunya terkait kenaikan harga Pertamax yang terjadi sejak Juni 2026.
“Kenaikan Pertamax tanggal 10 Juni kemarin masih memberikan dampak, memberikan dampak kenaikan inflasi tertinggi di Kota Tangerang,” kata Muladi.
Minyakita Masih Naik
Selain bahan bakar, harga minyak goreng juga menjadi perhatian BPS Kota Tangerang. Khusus Minyakita, Muladi menyebut harganya masih menunjukkan tren kenaikan.
“Minyak goreng terus naik, terutama Minyakita masih menunjukkan tren kenaikan harga,” tuturnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam upaya menjaga stabilitas harga kebutuhan masyarakat.
Terendah di Banten
Dibandingkan wilayah lain di Provinsi Banten, Kota Tangerang mencatat inflasi tahunan paling rendah pada Juli 2026. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Lebak sebesar 3,29 persen, sedangkan Kota Tangerang berada di angka 2,01 persen.
Kabupaten Pandeglang mencatat inflasi tahunan sebesar 3,07 persen, Kota Cilegon 2,75 persen, dan Kota Serang 2,77 persen. Sementara Provinsi Banten secara keseluruhan mencatat inflasi tahunan sebesar 2,49 persen.
Secara bulanan, Kabupaten Lebak mengalami inflasi sebesar 0,16 persen. Sementara Kota Tangerang mengalami deflasi 0,19 persen, Kota Cilegon deflasi 0,12 persen, Kota Serang deflasi 0,47 persen, dan Provinsi Banten deflasi 0,22 persen.
TPID Diminta Terus Pantau Harga
Muladi mengatakan data inflasi yang disampaikan BPS dapat menjadi bahan bagi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Tangerang untuk menentukan sektor yang perlu dikendalikan. Pemantauan tersebut penting agar perubahan harga komoditas tidak memberikan tekanan yang terlalu besar kepada masyarakat.
“Inflasi di Kota Tangerang kita catat agar tim TPID dapat melihat sektor-sektor mana yang perlu melakukan pengendalian,” ujarnya. Menurutnya, pengendalian dapat dilakukan dengan memastikan distribusi kebutuhan pokok berjalan lancar dan harga tetap terjangkau.
Selain itu, operasi pasar juga dapat dilanjutkan untuk membantu menjaga kestabilan harga. Pemerintah juga perlu memberikan informasi yang jelas mengenai pasokan dan harga kepada masyarakat agar ekspektasi terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga.
BPS mencatat deflasi Juli 2026 terutama dipengaruhi kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok pendidikan. Sementara penyumbang utama deflasi berasal dari cabai merah, sekolah menengah atas, emas perhiasan, angkutan udara, cabai rawit, dan telur ayam ras.
Dengan inflasi tahunan sebesar 2,01 persen, Kota Tangerang menjadi daerah dengan inflasi terendah di Banten pada Juli 2026. Meski kondisi harga secara umum masih terkendali, kenaikan bensin dan minyak goreng tetap menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas harga pada bulan berikutnya.








