KABUPATEN TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Memasuki hari ketiga kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Sukadiri, Kabupaten Tangerang, pemerintah mulai memberi perhatian serius terhadap dampak asap yang ditimbulkan. Selain proses pemadaman, keselamatan masyarakat dan petugas kini menjadi prioritas utama.
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) telah menurunkan tim untuk memantau kualitas udara di sekitar lokasi kebakaran. Hasil sementara menunjukkan kondisi udara berada pada kategori tidak sehat dan berisiko mengganggu kesehatan.
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH/BPLH, Rasio Ridho Sani, mengatakan pihaknya telah memasang dua unit mobil pemantau kualitas udara. Pemantauan dilakukan secara berkala untuk mengetahui perkembangan kondisi udara selama proses pemadaman berlangsung.
Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat
Rasio mengatakan hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara di sekitar TPA Jatiwaringin sudah berada pada level yang mengkhawatirkan. Kondisi tersebut membuat masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas.
“Hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara di sekitar lokasi berada pada kondisi yang sangat tidak sehat. Karena itu kami mengimbau masyarakat maupun petugas untuk selalu menggunakan masker,” kata Rasio Ridho Sani, saat dikonfirmasi awak media pada Kamis, 2 Juli 2026.
Ia menjelaskan, keselamatan petugas yang berjibaku memadamkan api juga menjadi perhatian utama pemerintah. Pasalnya, lokasi kebakaran memiliki kandungan gas metana yang tinggi sehingga proses penanganannya tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
Menurutnya, masyarakat juga diminta tidak mendekati lokasi kebakaran selama proses pemadaman berlangsung. Area tersebut hanya diperuntukkan bagi petugas yang memiliki perlengkapan keselamatan.
Debu dan Asap Berpotensi Sebabkan Gangguan Pernapasan
Rasio mengungkapkan, hasil pemantauan menunjukkan kadar partikel halus atau PM2.5 di sekitar lokasi kebakaran sangat tinggi. Selain itu, terdapat kandungan polutan lain seperti sulfur oksida (SOx) dan nitrogen oksida (NOx) yang dapat memengaruhi kesehatan.
Partikel-partikel tersebut berasal dari berbagai material yang terbakar di dalam tumpukan sampah. Tidak hanya sampah organik, tetapi juga plastik dan berbagai jenis limbah lainnya.
“Yang menjadi perhatian kami adalah tingginya kadar PM2,5 (1000) Selain itu juga terdapat SOx dan NOx yang tentu berdampak terhadap kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Rasio, paparan asap dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan. Karena itu, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak memiliki keperluan mendesak.
Ia juga mengingatkan agar warga selalu menggunakan masker ketika harus beraktivitas di sekitar wilayah yang terdampak asap. Langkah sederhana tersebut dinilai dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan.
Evakuasi Warga Terus Dilakukan
Terkait warga yang terdampak, Rasio menyebut Pemerintah Kabupaten Tangerang telah mengambil sejumlah langkah penanganan. Salah satunya dengan melakukan evakuasi terhadap warga di beberapa titik yang terdampak asap.
Meski demikian, pemantauan kualitas udara tetap dilakukan karena arah penyebaran asap dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti arah angin. Pemerintah akan terus mengevaluasi kondisi di lapangan untuk menentukan langkah berikutnya.
“Kami terus memantau kualitas udara di sekitar lokasi. Masyarakat yang berada di kawasan terdampak diharapkan tetap menggunakan masker dan mengikuti arahan petugas,” katanya.
Musim Kemarau Tingkatkan Risiko Kebakaran
Rasio mengatakan musim kemarau yang panjang membuat potensi kebakaran di tempat pemrosesan akhir sampah semakin tinggi. Kondisi tersebut juga pernah terjadi di berbagai daerah beberapa tahun lalu.
Ia mengingatkan seluruh pemerintah daerah agar meningkatkan pengawasan terhadap TPA di wilayah masing-masing. Pengelola TPA juga diminta menyiapkan langkah darurat apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran.
“Kemarau panjang meningkatkan risiko kebakaran di TPA. Karena itu kami meminta seluruh pengelola TPA memastikan pengelolaan sampah dilakukan dengan baik dan menyiapkan langkah antisipasi jika terjadi keadaan darurat,” tegasnya.
Menurut Rasio, salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah mempercepat penerapan sistem controlled landfill. Metode tersebut dinilai mampu mengurangi risiko keluarnya gas metana yang menjadi salah satu pemicu kebakaran.
Ia menambahkan, area TPA yang telah ditutup menggunakan geomembran terbukti lebih aman dibanding area yang masih menerapkan sistem open dumping. Karena itu, pemerintah daerah diminta mempercepat perbaikan sistem pengelolaan sampah.
Warga Diminta Tetap Waspada
Selain terus memantau kualitas udara, pemerintah juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah panik. Namun, warga diminta tetap waspada dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan.
Hingga berita ini ditulis, pemantauan kualitas udara masih terus dilakukan bersamaan dengan proses pemadaman kebakaran. Pemerintah berharap kondisi udara segera membaik seiring berkurangnya titik api di TPA Jatiwaringin sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali normal.










