KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Tradisi Lepas Ancak kembali digelar sebagai bagian dari rangkaian Perayaan Peh Cun & Twan Yang 2577/2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Pendopo Peh Cun, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, pada Jumat, 12 Juni 2026 siang.
Ritual ini menjadi salah satu tradisi yang terus dipertahankan oleh Perkumpulan Boen Tek Bio. Selain memiliki nilai budaya, Lepas Ancak juga mengandung makna spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.
Ketua Panitia Peh Cun 2026, Herlina Wati, mengatakan ritual tersebut dilakukan dengan melepaskan persembahan ke sembilan titik di sepanjang Kali Cisadane. Titik-titik tersebut dipercaya memiliki keterkaitan dengan aliran dan pusaran air yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat.
“Kegiatan hari ini adalah Lepas Ancak. Ada sembilan titik persembahan yang kami lakukan. Tujuannya sebagai bentuk permohonan kepada alam semesta, khususnya yang berkaitan dengan air, agar seluruh kegiatan yang kami laksanakan dapat berjalan baik, lancar, aman, dan tanpa bahaya maupun risiko apa pun,” kata Herlina kepada Lensa Banten saat ditemui.
Sembilan titik persembahan itu berada di kawasan pabrik tahu wilayah wakaf dekat Taman Gajah, area musala dekat Kali Pasir, dan kawasan Babakan. Selain itu, persembahan juga ditempatkan di Sumur Tua PDAM TKR, Tangga Jamban, kawasan Roti Bakar 88, area musala Karawaci, belakang Robinson dekat Masjid Gerendeng, serta tikungan Wihara Indoroka di depan Klenteng Boen San Bio.
Prosesi diawali dengan doa bersama sebelum ancak dibawa menuju lokasi yang telah ditentukan. Panitia juga menaburkan bunga sebagai bagian dari ritual sebelum persembahan diturunkan ke setiap titik.
Persembahan yang disiapkan terdiri dari berbagai kebutuhan simbolis. Mulai dari lilin, bunga, teh, kopi, susu, makanan, hingga sejumlah uang yang menjadi bagian dari tradisi tersebut.
“Biasanya kami melakukan persembahan dengan lilin, teh, kopi, susu, daging, makanan ringan, bunga, dan juga uang. Sebelum persembahan diturunkan, kami terlebih dahulu menaburkan bunga sebagai bagian dari rangkaian ritual,” tuturnya.
Menurut Herlina, tradisi Lepas Ancak merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan para pendahulu. Ritual ini juga menjadi simbol permohonan izin agar seluruh kegiatan yang berkaitan dengan perairan dapat berjalan dengan aman.
“Ini merupakan tradisi yang kami warisi dari pendahulu. Kami melakukan persembahan sebagai bentuk permohonan agar kegiatan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan baik tanpa adanya risiko maupun bahaya,” jelas Herlina.
Selain ritual budaya, perayaan Peh Cun tahun ini juga diisi dengan kegiatan sosial dan lingkungan. Salah satunya adalah aksi bersih-bersih bantaran Kali Cisadane yang akan dilaksanakan pada 15 Juni 2026.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai elemen yang berada di bawah naungan Boen Tek Bio. Mulai dari pelajar Sekolah Setia Bakti, Sekolah Budi, mahasiswa Universitas Buddhi Dharma, hingga komunitas sosial dan keagamaan.
“Kami ingin mengajak masyarakat dan generasi muda untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Karena itu, salah satu rangkaian kegiatan tahun ini adalah aksi bersih-bersih bantaran Kali Cisadane,” imbuhnya.
Rangkaian perayaan kemudian akan berlanjut dengan hiburan rakyat dan berbagai perlombaan pada 16 hingga 18 Juni 2026. Beragam pertunjukan budaya juga disiapkan untuk menghibur masyarakat yang hadir.
Puncak perayaan akan berlangsung pada malam 18 Juni dengan doa bersama lintas keyakinan yang berada di bawah tradisi Peh Cun. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan ritual pemandian perahu yang menjadi salah satu agenda utama setiap tahunnya.
“Harapan kami kegiatan ini dapat berjalan lancar dan terus dilestarikan. Kami juga berharap generasi muda dapat meneruskan tradisi yang sudah diwariskan oleh para pendahulu agar tetap hidup di masa mendatang,” pungkasnya.










