LENSABANTEN.CO.ID — Bagi sebagian orang, perjalanan laut berjam-jam menembus ombak mungkin terdengar melelahkan. Namun, narasi itu seketika runtuh begitu kaki menapak di atas pasir putih Pulau Peucang. Tersembunyi di balik rimbunnya hutan tropis Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), pulau ini tak sekadar menawarkan panorama, melainkan sebuah pelarian yang magis.
Rasa takjub yang seragam rupanya menjadi garis merah bagi siapa saja yang datang ke sini. Tengok saja kisah Ayu, pelancong asal Serang yang awalnya hanya terpikat oleh potongan video estetik di Instagram dan TikTok. Didorong rasa penasaran, ia memutuskan melakoni trip tiga hari dua malam di sana. Hasilnya? Realitas ternyata jauh melampaui ekspektasi layar ponselnya.
“Pas datang ternyata lebih bagus lagi. Seru banget bisa snorkeling, melihat banteng di Savana Cidaon, sampai foto-foto di Pohon Kiara yang ikonik,” kenang Ayu antusias. Baginya, ada magnet tersendiri yang membuat siapapun berjanji dalam hati untuk kembali lagi.
Senada dengan Ayu, Ade dan Dinda, duo traveler asal Bekasi, juga terhipnotis oleh lanskap yang disuguhkan. Segala peluh selama perjalanan panjang langsung menguap begitu disambut oleh jernihnya air laut yang bergradasi dari hijau toska hingga biru tua. Hebatnya lagi, keasrian alam di pulau ini membuat satwa liar seperti rusa, monyet, hingga biawak hidup berdampingan dengan tenang di sekitar area wisata.
Menjelajahi Jejak Masa Lalu dan Ombak Kelas Dunia
Pulau Peucang bukan sekadar urusan pantai dan laut. Berjalanlah sedikit ke dalam hutannya, Anda akan bersua dengan Pohon Kiara raksasa yang legendaris. Pohon berusia ratusan tahun ini bukan tanaman biasa; ia menjadi saksi bisu dan satu-satunya penyintas dari dahsyatnya letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 silam. Tak jauh dari situ, berdiri kokoh Karang Copong—formasi batuan menyerupai jembatan raksasa yang sarat akan nilai geologi sekaligus mitos lokal.
Bagi pencinta petualangan yang lebih ekstrem, kawasan Ujung Kulon juga menyimpan “kartu as” lain di Pulau Panaitan. Menurut Rudin Suhendar, seorang Polisi Hutan setempat, ombak di Panaitan merupakan salah satu spot surfing terbaik yang menjadi incaran para peselancar dunia, mulai dari Australia hingga Belanda, terutama pada periode Agustus hingga Oktober.
Komitmen Merawat Rumah Terakhir Badak Jawa
Daya tarik wisata yang memikat ini tentu menuntut tanggung jawab besar dalam hal konservasi. Bagaimanapun, Ujung Kulon adalah benteng terakhir bagi kelangsungan hidup Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus).
Kepala Balai TNUK, Ardi Andono, menegaskan bahwa beberapa kawasan seperti Pulau Handeuleum dan Kuta Karang saat ini sengaja ditutup sementara untuk mendukung program translokasi badak. Kendati demikian, wisatawan tak perlu kecewa karena spot reguler seperti Peucang dan Panaitan tetap aman dikunjungi, meski fasilitas dasar seperti pasokan listrik berbasis genset dan ketersediaan air bersih di toilet komunal masih terus dibenahi oleh pihak pengelola bersama Dinas Pariwisata Provinsi Banten.
Panduan Singkat Menuju Peucang
Bagi Anda yang ingin merasakan langsung magisnya Pulau Peucang, kapasitas pengunjung harian kini dibatasi sekitar 120 orang demi menjaga kelestarian ekosistem. Tiket masuk TNUK dibanderol sangat terjangkau, yakni Rp10.000 pada hari kerja dan Rp15.000 di akhir pekan untuk WNI (sementara WNA dikenakan Rp150.000). Untuk akomodasi, tersedia pilihan homestay dan villa dengan rentang harga Rp900.000 hingga Rp2.000.000 per malam. Ingat, aktivitas memancing di sekitar dermaga serta membawa minuman keras adalah hal yang terlarang di sini.
Pada akhirnya, Pulau Peucang membuktikan bahwa kita tidak perlu melangkah terlalu jauh ke timur Indonesia atau ke luar negeri untuk menemukan sebuah surga tersembunyi. Di ujung barat Pulau Jawa, keheningan dan keindahan alam yang jujur telah menanti untuk menyembuhkan jiwa-jiwa yang penat oleh bisingnya urbanisasi.










