JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID– Perkumpulan Mahasiswa Pekerja (PMP mendesak Presiden untuk mengisi jabatan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) dari kalangan pimpinan serikat pekerja. Desakan ini kami sampaikan menyusul penetapan tersangka dan penahanan Wamenaker Immanuel Ebenezer atau Noel oleh KPK serta pemberhentiannya melalui Keputusan Presiden.
“Saya, Abid Al Akbar, Koordinator Pusat Perkumpulan Mahasiswa Pekerja, menegaskan: Wamenaker pasca-krisis kepercayaan harus lahir dari peluh perjuangan buruh—bukan dari kalkulasi politik semata. Kita butuh pejabat yang paham medan, kuat mandat moralnya, dan siap bertanggung jawab di meja perundingan maupun di hadapan publik.”
Atas dasar rekam jejak dan mandat sosial, Ia menilai figur-figur seperti Jumhur Hidayat, Said Iqbal, dan Andi Gani Nena Wea layak dipertimbangkan.
Mereka dinilai pemimpin serikat yang berpengalaman memimpin mobilisasi aspirasi buruh, mengelola perundingan, dan memformulasikan solusi kebijakan. (Jumhur Hidayat—Ketua Umum KSPSI; Said Iqbal—Presiden KSPI & Ketua Partai Buruh; Andi Gani—Presiden KSPSI/ATUC).
Kriteria Wamenaker mereka dorong : integritas tak berkompromi; rekam jejak advokasi yang terukur; kapabilitas teknokratis dalam isu upah, perlindungan sosial, jaminan K3, dan reformasi pengawasan ketenagakerjaan; serta keberanian memperkuat dialog sosial tripartit.
Figur dari serikat pekerja memenuhi prasyarat ini karena memahami langsung realitas di lantai produksi dan denyut ekonomi rakyat pekerja—sekaligus sanggup berbicara dalam bahasa kebijakan.
“Kami menyerukan agar Presiden menugaskan figur serikat pekerja yang kredibel untuk menuntaskan pekerjaan rumah ketenagakerjaan: dari penguatan pengawasan K3, penegakan upah layak, hingga perlindungan pekerja rentan. Kursi Wamenaker harus menjadi alat koreksi, bukan sekadar aksesori kekuasaan. Saatnya negara berdiri setegak-tegaknya di sisi pekerja.” — Abid Al Akbar, Koordinator Pusat Perkumpulan Mahasiswa Pekerja.
Penulis : Rls
Editor : Eky









