TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Pembangunan jaringan kabel fiber optik di sepanjang Jalan KH Hasyim Ashari, Kota Tangerang, menuai perhatian warga. Proyek ini memicu keluhan karena kondisi trotoar yang dinilai tidak kembali seperti semula.
Pekerjaan yang dilakukan oleh PT Davon Media Teknologi dianggap meresahkan masyarakat. Warga menilai pembongkaran trotoar tidak diiringi dengan perbaikan yang layak setelah pengerjaan selesai.
Kondisi Trotoar Rusak dan Membahayakan
Hasil pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah titik trotoar mengalami kerusakan. Permukaan yang sebelumnya rata kini menjadi bergelombang, tidak rata, bahkan berlubang di beberapa bagian.
Situasi ini tidak hanya merusak keindahan kota, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan. Pengguna jalan, baik pejalan kaki maupun pengendara, harus ekstra hati-hati saat melintas.
Keluhan Pengendara: Nyaris Celaka
Seorang pengemudi ojek online bernama Asep yang kerap melintas di jalur tersebut mengaku merasa waswas. Ia menyebut kondisi pinggir jalan kini jauh dari kata aman.
“Sekarang pinggir jalan jadi nggak beres. Mereka bongkar, tapi pas ditutup lagi malah nggak rapi. Biasanya juga ujung-ujungnya nggak diberesin,” ujarnya kepada Lensa Banten pada Selasa, 28 April 2026.
Ia bahkan mengaku hampir terjatuh akibat kondisi bekas galian yang berantakan. Hal itu membuatnya semakin berhati-hati setiap melintas.
“Kemarin saya hampir kesandung. Itu bekas galiannya masih berantakan,” tambahnya.
Proyek Diakui Berizin, Tapi Pengawasan Dipertanyakan
Keluhan warga muncul karena kondisi trotoar yang kini terlihat seperti proyek setengah jadi. Selain itu, sisa material seperti tanah dan puing kerap dibiarkan menumpuk di sisi jalan.
Di sisi lain, pihak pelaksana proyek menyebut pekerjaan ini telah mengantongi izin resmi. Wakil mandor proyek yang akrab disapa Mas Doyok menjelaskan proyek tersebut berada di bawah koordinasi Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL).
“Ini dari PT Davon, dapat tender dari APJATEL. Izin lengkap, K3 juga sudah dibekali. Cuma memang kadang pekerja di lapangan tidak selalu menerapkan,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan proyek ini membentang dari Lampu Merah Cikokol hingga Alfamidi. Metode yang digunakan adalah penanaman kabel bawah tanah menggunakan pipa High-Density Polyethylene (HDPE).
“Kita tanam 25 HDPE, masing-masing berisi kabel,” katanya.








