KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Rencana Pemerintah Kota Tangerang (Pemkot) melalui PT Tangerang Nusantara Global (TNG) untuk menerapkan sistem parkir digital berbayar di kawasan Stadion Benteng Reborn menuai berbagai tanggapan. Sejumlah kalangan menilai kebijakan tersebut perlu dikaji lebih matang sebelum diterapkan.
Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang, Andri S. Permana, menjadi salah satu pihak yang secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap rencana tersebut. Menurutnya, Stadion Benteng Reborn selama ini telah menjadi ruang publik yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat.
“Saya tidak setuju terkait adanya rencana Pemerintah Kota Tangerang melakukan digitalisasi perparkiran di kawasan Stadion Benteng Reborn. Stadion Benteng hari ini bukan hanya sarana olahraga, komunitas dan anak-anak Puslacab, tetapi juga menjadi ruang rekreasi yang terjangkau bagi masyarakat,” kata Andri pada Senin, 22 Juni 2026.
Soroti Kondisi Ekonomi dan Potensi Kemacetan
Andri menilai kebijakan tersebut berpotensi menambah beban warga di tengah kondisi ekonomi yang masih sulit. Ia berharap pemerintah lebih mengutamakan kepentingan masyarakat dalam setiap kebijakan yang diambil.
“Di situasi ekonomi yang hari ini sulit, saya harap pemerintah tidak menyulitkan rakyatnya. Kalau ekonomi lagi susah, jangan membuat rakyat marah,” ujarnya.
Selain persoalan biaya, Andri juga menyoroti potensi kemacetan yang bisa terjadi di sekitar stadion. Menurutnya, kawasan tersebut sudah sering mengalami kepadatan kendaraan, terutama saat perlintasan kereta api ditutup.
“Di depan Stadion Benteng selalu terdampak apabila ada perlintasan kereta. Pada jam-jam sibuk sering terjadi kemacetan. Ini harus menjadi perhatian karena jangan sampai kebijakan baru justru menambah persoalan lalu lintas,” katanya.
Pertanyakan Urgensi Perubahan Sistem
Politisi tersebut mengaku belum menemukan keluhan signifikan terkait pengelolaan parkir di Stadion Benteng Reborn. Karena itu, ia mempertanyakan alasan perlunya perubahan sistem secara menyeluruh.
“Sampai hari ini kita tidak pernah menemukan ada keluhan di masyarakat terkait tata cara dan tata kelola perparkiran yang ada di Stadion Reborn,” ujarnya.
Andri menegaskan retribusi tetap harus berjalan sesuai aturan. Namun, menurutnya, fungsi sosial ruang publik tidak boleh dikorbankan hanya demi mengejar peningkatan pendapatan daerah.
“Retribusi tetap harus berjalan. Tetapi kalau kemudian digitalisasi ini menggunakan alasan perda retribusi dan membuat biaya parkir menjadi tidak lagi flat, tentu itu akan menjadi beban bagi masyarakat,” katanya.
Karang Taruna Minta Aspirasi Warga Didengar
Penolakan serupa disampaikan Ketua Karang Taruna Kelurahan Sukaasih, Yudy Supriadi. Ia menilai penerapan parkir digital saat ini belum menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat.
Meski demikian, Yudy menegaskan dirinya tetap mendukung berbagai program Pemerintah Kota Tangerang yang bertujuan meningkatkan pelayanan publik.
“Saya pribadi kurang setuju kalau parkir digital diterapkan di Benteng Reborn sekarang. Bukan karena menolak kemajuan atau program pemerintah, tapi lebih melihat kondisi masyarakat saat ini yang masih banyak sedang berjuang secara ekonomi,” katanya.
Menurut Yudy, Stadion Benteng Reborn selama ini menjadi tempat berkumpul berbagai komunitas dan masyarakat dari beragam latar belakang. Ia khawatir sistem baru justru membatasi akses masyarakat terhadap fasilitas publik tersebut.
“Yang datang ke Benteng itu bukan hanya orang yang mau olahraga atau rekreasi semata. Banyak juga komunitas, pelajar, drum band dan paskibra yang memanfaatkan fasilitas di sini,” ujarnya.
Yudy berharap pemerintah membuka ruang dialog sebelum mengambil keputusan final. Menurutnya, pengguna stadion sehari-hari perlu dilibatkan dalam pembahasan kebijakan tersebut.
“Kalau bisa diajak diskusi dulu dengan warga sini, komunitas olahraga, pedagang sekitar, dan elemen masyarakat lainnya,” katanya.
Warga Khawatirkan Akses dan Biaya
Kekhawatiran juga datang dari Fatimah Esti Rahayu, warga Cipondoh yang rutin mengajak anak-anaknya berkunjung ke stadion. Ia menilai belum semua masyarakat terbiasa menggunakan transaksi digital.
“Tidak semua orang punya aplikasi pembayaran atau saldo elektronik. Kadang ada orang tua yang datang olahraga sendiri, belum tentu paham cara bayarnya,” katanya.
Menurut Fatimah, salah satu daya tarik Stadion Benteng Reborn adalah kemudahan akses dan biaya yang terjangkau. Hal itu membuat stadion menjadi pilihan rekreasi keluarga bagi banyak warga.
Pedagang Takut Pengunjung Berkurang
Ririn, pedagang minuman di sekitar stadion, mengaku khawatir jika kebijakan baru membuat jumlah pengunjung menurun. Ia mengatakan keberlangsungan usaha kecil sangat bergantung pada ramainya aktivitas masyarakat di kawasan tersebut.
“Kalau orang jadi malas datang karena harus bayar ini itu, tentu pengaruh ke pedagang juga. Kami hidup dari pengunjung yang datang ke sini,” ujarnya.
Menurutnya, Stadion Benteng Reborn telah berkembang menjadi pusat aktivitas masyarakat Kota Tangerang. Setiap hari, kawasan tersebut dipenuhi warga yang datang untuk berolahraga maupun bersantai bersama keluarga.
Sebagian Warga Dukung Modernisasi dengan Catatan
Di sisi lain, ada warga yang mendukung digitalisasi parkir selama tidak membebani masyarakat. Mereka menilai modernisasi sistem dapat meningkatkan transparansi dan mencegah kebocoran pendapatan.
Dedi, warga Cibodas, mengatakan digitalisasi pada dasarnya merupakan langkah yang baik. Namun, ia meminta pemerintah memastikan kebijakan tersebut tidak menimbulkan antrean maupun biaya tambahan bagi pengunjung.
“Kalau tujuannya supaya lebih tertib dan uang parkir masuk ke kas daerah, saya setuju. Tapi jangan sampai masyarakat yang jadi korban atau prosesnya malah bikin antrean panjang,” katanya.
Menurut Dedi, persoalan yang lebih mendesak untuk dibenahi justru terkait pengaturan lalu lintas di sekitar stadion. Terutama saat akhir pekan maupun ketika perlintasan kereta api ditutup.
“Kadang macetnya bukan karena parkir, tapi karena volume kendaraan memang banyak. Itu yang harus dicari solusinya,” ujarnya.
Berita ini sudah disusun dengan gaya media online, paragraf pendek, subjudul yang memudahkan pembaca mengikuti alur berita, serta kutipan dipisahkan agar lebih nyaman dibaca.










