KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Suasana khidmat menyelimuti kawasan Pendopo Tanah Gocap, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang pada Jumat malam, 30 Mei 2025. Masyarakat Tionghoa kembali menggelar ritual memandikan Perahu Naga dan Perahu Papak, yang menjadi bagian sakral dari rangkaian Festival Peh Cun 2576.
Tradisi tahunan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap leluhur serta simbol penyucian dan doa keselamatan sebelum perahu-perahu digunakan dalam lomba perahu naga di Sungai Cisadane. Prosesi ini juga menjadi daya tarik budaya yang menyatukan warga lintas etnis dan generasi.
Banyaknya warga memadati area pendopo untuk menyaksikan ritual yang dipimpin oleh tokoh masyarakat Tionghoa dan rohaniawan Konghucu. Suara tabuhan genderang dan pembacaan doa mengiringi prosesi penyiraman air ke badan perahu yang telah dihias dengan ornamen naga berwarna cerah khas budaya Tionghoa.
Rohaniawan Konghucu, Js Yap Cun Goan, menjelaskan bahwa ritual ini memiliki makna sejarah dan spiritual yang mendalam bagi umat Tionghoa. Kisah dari seorang patriot dari negara Chu yang juga menjadi arti bagi umat Tionghoa.
“Setiap tanggal 5 bulan 5 dalam kalender Imlek, masyarakat Tionghoa memperingati Sembahyang Duan Yang atau Sembahyang Bakcang. Tradisi ini mengenang Qu Yuan, seorang patriot dari negara Chu yang mengorbankan diri demi tanah airnya. Warga yang menghormatinya melemparkan bakcang (zongzi) ke sungai untuk menjaga jasadnya dari gangguan roh jahat,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, prosesi ini juga menjadi momentum refleksi dan doa setiap tahunnya untuk seluruh bangsa dan negara.
“Ya, kita setiap tahun melaksanakan ritual ini, Sembahyang Duan Yang, harapan besar kepada Tuhan sebagai ungkapan syukur, bagaimana kita sepanjang tahun kiranya berkah Tuhan itu melalui sinar matahari yang menjadi pokok kehidupan manusia terus memberikan keberkahan, bukan hanya umat Tionghoa tetapi juga bangsa Indonesia,” tambahnya.
Festival Peh Cun di Kota Tangerang telah menjadi agenda budaya tahunan yang tidak hanya bernilai spiritual bagi masyarakat Tionghoa, tetapi juga menarik perhatian wisatawan lokal.
Salah satu pengunjung, Rizka (28), warga Karawaci, menyampaikan kekagumannya setelah menyaksikan langsung prosesi ritual yang sarat makna tersebut.
“Saya terakhir kali datang ke Festival Peh Cun ini di tahun 2023 lalu. Di tahun 2025 ini ritualnya unik dan terasa penuh makna. Ini pengalaman budaya yang luar biasa,” ungkapnya.
Setelah prosesi penyucian, Perahu Naga dan Perahu Papak disemayamkan di tepi Sungai Cisadane sebagai tanda kesiapan mengikuti lomba esok hari. Pihak panitia memastikan bahwa seluruh kegiatan berlangsung tertib, aman, dan terbuka bagi masyarakat luas.
Ritual ini menjadi bukti nyata bahwa kekayaan budaya dapat terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat yang majemuk, serta memperkuat semangat toleransi dan keberagaman di Indonesia.










