Slank Tegaskan Fufufafa Sebagai Simbol Kritik Etika Digital, Bantah Tudingan Meredup

Slank Tegaskan Fufufafa Sebagai Simbol Kritik Etika Digital, Bantah Tudingan Meredup
Slank Tegaskan Fufufafa Sebagai Simbol Kritik Etika Digital, Bantah Tudingan Meredup

JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID – Kehadiran album terbaru Slank yang bertajuk ‘Republik Fufufafa’ memicu diskusi hangat di ruang publik terkait arah politik band tersebut.

Banyak pihak mengaitkan judul tersebut dengan akun anonim yang sempat membuat heboh jagat maya pada periode 2024–2025. Menanggapi hal itu, Slank langsung memberikan klarifikasi tegas.

Bacaan Lainnya

Pihak Slank menyatakan dengan tegas bahwa mereka sama sekali tidak berniat untuk menuding atau menyerang individu tertentu lewat karya ini.

Bagi band kelolaan Bunda Iffet ini, nama tersebut memiliki arti yang jauh lebih luas. Mereka melihat fenomena tersebut dari sudut pandang sosiologis masyarakat modern saat ini.

“Sebenarnya Fufufafa itu melambangkan kekhawatiran kita sama Indonesia pernah jadi bangsa yang paling kurang ajar bermedia sosial. Di tahun berapa tuh? Googling deh. Itu kita shock juga, ‘Wih, apa iya ya?’ Dan saat itu ada satu akun yang kita anggap mewakili bahwa, emang bener nih. Entah siapa dia, kita nggak tahu. Nggak ada pun yang tahu, nggak ada yang ngaku juga. Jadi itulah mengapa kita anggap seksi dari Fufufafa itu.” kata Bimbim.

Bimbim juga menambahkan bahwa album dengan total 10 lagu baru ini merupakan sebuah ‘kode keras’ kepada masyarakat luas.

Melalui karya ini, Slank ingin mengingatkan kembali kepada publik mengenai jati diri dan posisi mereka yang sebenarnya. Sejak awal berdiri, tema yang mereka bawa tidak pernah bergeser dari garis rakyat.

“Kami nggak ke mana-mana. Dari dulu sampai sekarang tetap ngomongin cinta, sosial, lingkungan, dan anak muda. Sebenarnya Slank nggak ke mana-mana kok, mereka aja yang berubah.”, tambah Bimbim,

Di sisi lain, gitaris Slank, Ridho, menolak keras anggapan sebagian netizen yang menyebut Slank baru saja “balik ke setelan pabrik”.

Istilah itu marak muncul karena Slank dianggap baru kritis lagi setelah sekian lama dinilai dekat dengan kekuasaan. Ridho menilai anggapan tersebut muncul karena ketidaktahuan publik terhadap diskografi Slank.

“Kalau kata gue, kalian jangan nulis ‘setelan pabrik’, berarti kalian nggak ngerti Slank. Tengok saja album ‘Pala Lu Peyang’ di 2017 sebagai bukti protes ke pemerintahan Jokowi periode pertama, dan album ‘Vaksin’ di 2021.” ujar Ridho.

Melalui album ‘Republik Fufufafa’ yang meluncurkan lagu-lagu tajam seperti ‘Rusak Ancur’ hingga ‘PPN 12%’, Slank membawa misi penting.

Mereka ingin menegaskan bahwa kegaduhan media sosial serta degradasi etika digital adalah ancaman nyata bagi demokrasi. Kebebasan berpendapat di ruang digital harus dibarengi dengan tanggung jawab moral yang sehat. (san/*) #foto dok. cf

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.