Kobe Absen dari RDP DPRD, Misteri Bau Menyengat di Panongan Belum Terungkap

Kobe Absen dari RDP DPRD, Misteri Bau Menyengat di Panongan Belum Terungkap
Kobe Absen dari RDP DPRD, Misteri Bau Menyengat di Panongan Belum Terungkap

PANONGAN, LENSABANTEN.CO.ID  — Keluhan warga terkait bau menyengat yang diduga berasal dari aktivitas industri di Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, hingga kini belum menemukan titik terang.

Meski berbagai rapat dan pembahasan telah dilakukan selama lebih dari satu tahun terakhir, masyarakat di Kelurahan Mekar Bakti dan kawasan CitraRaya mengaku masih kerap mencium aroma yang disebut menyerupai oli terbakar.

Bacaan Lainnya

Persoalan tersebut kembali menjadi pembahasan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPRD Kabupaten Tangerang, Kamis 23 Juli 2026. Forum itu digelar untuk mendengarkan keterangan dari berbagai pihak sekaligus mencari solusi atas dugaan pencemaran udara yang dikeluhkan warga.

Dalam rapat, warga menyampaikan pengalaman saat Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang memasang alat pemantau kualitas udara di lokasi. Menurut mereka, bau menyengat tidak tercium selama alat tersebut terpasang, namun kembali muncul setelah perangkat itu dilepas.

“Pola kejadiannya selalu sama. Saat alat dipasang baunya hilang, begitu dicabut muncul lagi,” kata Joe Hutagaol.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian dalam rapat, meski hingga kini belum ada bukti yang menyimpulkan adanya pihak tertentu yang sengaja menghindari pengawasan. Warga berharap pemerintah memperluas pemantauan kualitas udara dengan menambah titik pengukuran dan melakukan inspeksi secara berkala agar sumber bau dapat diidentifikasi secara ilmiah.

Komisi IV DPRD juga mengundang PT Kobe Kujira Mandiri, perusahaan pengolah limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang belakangan menjadi sorotan warga. Namun perusahaan tidak menghadiri rapat.

Melalui surat yang dibacakan Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Tangerang Nonce Thendean, perusahaan menyampaikan permohonan maaf dan meminta agar pengelola Kawasan Industri Millennium turut dilibatkan dalam pembahasan.

Dalam rapat tersebut, Nonce juga membacakan hasil uji laboratorium yang menunjukkan tingkat kebauan masih berada di bawah baku mutu yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup.

Meski demikian, warga menilai hasil pengujian tersebut belum menjawab kondisi yang mereka alami sehari-hari. Mereka meminta pemerintah melakukan pemantauan yang lebih komprehensif dan transparan agar penyebab bau dapat dipastikan.

Ketua RW Graha Indira CitraRaya, Medy Yansah, meminta pemerintah memeriksa seluruh aktivitas industri di kawasan tersebut tanpa hanya berfokus pada satu perusahaan.

Sementara itu, warga Kelurahan Mekar Bakti, Widi Hatmoko, menilai pembahasan dalam rapat lebih banyak membahas penjelasan perusahaan dibandingkan mendalami dampak yang dirasakan masyarakat.

“Kalau saya lihat dari tadi, Ibu Wakil Ketua Komisi IV ini sudah seperti setengah Humasnya PT Kobe,” ujarnya.

Pernyataan itu sempat memicu perhatian peserta rapat. Namun DPRD menegaskan pembahasan akan terus dilakukan dengan melibatkan seluruh pihak terkait untuk memastikan sumber bau dapat diketahui secara objektif.

RDP berakhir tanpa kesimpulan mengenai asal bau menyengat yang dikeluhkan warga. Komisi IV DPRD Kabupaten Tangerang berencana kembali memanggil pihak-pihak terkait guna melanjutkan pembahasan dan mencari kepastian atas dugaan pencemaran udara tersebut.

Warga berharap pemerintah segera mengungkap sumber bau dan menyampaikan hasil pengawasan secara terbuka kepada publik. Mereka menilai udara bersih merupakan hak dasar masyarakat yang harus dijamin melalui penegakan aturan dan pengawasan lingkungan yang konsisten.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.