SMAN 14 Tangerang Klarifikasi Polemik DAH: Sekolah Bantah Ada Pengusiran

Diminta Mundur dari SMAN 14, Siswa Tegaskan Statusnya Hanya Admin Grup, Bukan Pemimpin Kelompok
Diminta Mundur dari SMAN 14, Siswa Tegaskan Statusnya Hanya Admin Grup, Bukan Pemimpin Kelompok

KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Wakil Kepala SMAN 14 Kota Tangerang, Suhenda, memberikan klarifikasi terkait persoalan yang melibatkan siswa berinisial DAH. Ia menegaskan, persoalan tersebut telah diselesaikan melalui proses klarifikasi dan tabayyun bersama pihak keluarga.

Suhenda mengatakan, penyelesaian kasus tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan seluruh siswa di sekolah. Menurutnya, keputusan yang diambil diharapkan dapat melindungi 1.250 siswa sekaligus tetap menjaga masa depan DAH.

Bacaan Lainnya

“Sebetulnya ini persoalan sudah selesai. Semua proses sudah dilalui dengan baik, tabayyun dengan pihak keluarga sudah dilakukan, semuanya sudah paham, dan anaknya juga sudah meminta surat pindah,” kata Suhenda, saat dikonfirmasi Lensa Banten pada Selasa, 11 Agustus 2026.

Sekolah Sebut DAH Terlibat Kelompok yang Dinilai Bermasalah

Suhenda menjelaskan, SMAN 14 Kota Tangerang memiliki tata aturan yang wajib dipahami dan disepakati oleh setiap siswa serta orang tua sejak awal masuk sekolah. Aturan tersebut bahkan dibaca dan ditandatangani di atas meterai sebagai bentuk kesanggupan untuk mematuhinya.

“Setiap siswa yang masuk ke SMA 14, baik siswa maupun orang tuanya, diwajibkan membaca aturan sekolah dan menandatanganinya di atas meterai. Barang siapa yang siap, berarti mereka siap mengikuti aturan,” ujarnya.

Dalam proses klarifikasi, pihak sekolah meminta keterangan dari sejumlah siswa yang disebut berasal dari kelas 10, 11, hingga 12. Dari keterangan tersebut, sekolah menyimpulkan bahwa DAH disebut sebagai pimpinan kelompok yang mengajak siswa lain bergabung.

Suhenda menyebut, pihak sekolah juga menerima keberatan dari sejumlah orang tua siswa, terutama orang tua siswa kelas 10. Mereka menyampaikan bahwa anak-anaknya disebut diajak masuk ke dalam kelompok tersebut tanpa mengetahui persoalan yang ada di dalamnya.

“Setelah diadakan klarifikasi terhadap saksi, bermunculanlah orang tua siswa, terutama dari kelas 10, yang datang ke sekolah menyatakan keberatan. Anak-anak mereka secara tidak tahu-menahu diajak bergabung ke grup itu, dan ternyata di dalamnya ada unsur pemaksaan serta ancaman,” jelasnya.

Sekolah Klaim Memiliki Bukti Percakapan

Terkait dugaan pemaksaan dan ancaman tersebut, Suhenda mengatakan pihak sekolah memiliki bukti berupa tangkapan layar percakapan. Bukti tersebut disebut sempat diamankan oleh guru meski percakapan asli kemudian telah dihapus.

“Ada bukti chat-nya. Walaupun zaman sekarang mereka pintar, tiba-tiba chat-nya pada hilang, tapi bukti tangkapan layar atau screenshot itu sempat diambil oleh guru kami,” ungkapnya.

Menurut Suhenda, bukti tersebut kemudian menjadi bagian dari proses klarifikasi bersama keterangan para saksi. Dari keseluruhan proses itu, pihak sekolah menyatakan persoalan tersebut mengarah kepada DAH.

Meski demikian, Suhenda menegaskan bahwa pihak sekolah tidak ingin masa depan DAH terhenti akibat persoalan tersebut. Ia menyebut DAH tetap diharapkan melanjutkan pendidikan hingga lulus meski harus bersekolah di tempat lain.

Suhenda Tegaskan DAH Tidak Dikeluarkan

Suhenda juga membantah jika keputusan DAH meninggalkan SMAN 14 Kota Tangerang merupakan bentuk pengusiran atau pemecatan dari sekolah. Menurutnya, DAH secara sukarela mengajukan pengunduran diri dan meminta surat pindah.

“Tidak ada pengusiran atau pemecatan dari sini, yang ada adalah solusi agar sama-sama baik. Kami ingin mereka tetap selesai sekolah sampai lulus,” tegasnya.

Ia menambahkan, surat pindah tersebut telah diproses oleh pihak sekolah sesuai dengan pengajuan dari DAH. Sekolah juga telah memberikan surat yang menerangkan bahwa DAH merupakan siswa SMAN 14 Kota Tangerang hingga tanggal tertentu.

Terkait surat kelakuan baik, Suhenda menjelaskan bahwa dokumen tersebut berbeda dengan surat keterangan sebagai siswa. Menurutnya, urusan surat keterangan catatan kepolisian atau SKCK merupakan kewenangan pihak kepolisian.

Sekolah Tak Kaitkan DAH dengan Geng Motor

Sementara mengenai isu geng motor yang turut mencuat dalam persoalan tersebut, Suhenda memilih tidak memberikan pernyataan yang mengaitkan DAH secara langsung dengan kelompok tersebut. Ia mengatakan sekolah selama ini justru aktif melakukan pencegahan terhadap masuknya pengaruh geng motor ke lingkungan sekolah.

“Kalau geng motor, kami tidak memberikan pernyataan tentang hal itu. Tetapi secara kebetulan, pembina kami dan sekolah ini bekerja sama dengan FKPMS serta pihak Polres maupun Polda,” katanya.

Suhenda menjelaskan, kerja sama tersebut dilakukan sebagai langkah pencegahan terhadap keberadaan kelompok yang berpotensi mengarah pada geng motor. Jika terdapat organisasi yang dinilai mengarah ke aktivitas tersebut, pihak terkait disebut akan mengambil langkah pencegahan hingga pembubaran.

Minta Persoalan Tidak Terus Dibesar-besarkan

Suhenda berharap seluruh pihak dapat menghentikan polemik setelah proses tabayyun dan penyelesaian bersama keluarga dilakukan. Ia meminta persoalan tersebut tidak terus dibesar-besarkan karena dikhawatirkan justru berdampak terhadap masa depan DAH.

“Kepada siapapun, tokoh masyarakat, media, dan lain sebagainya, kami merasa kasihan apabila hal semacam ini terus dinaik-naikkan. Yang rugi nanti anak itu sendiri, padahal kami merasa anak itu masih punya masa depan,” tuturnya.

Ia memastikan pihak keluarga yang terlibat telah melakukan tabayyun dan saling memaafkan. DAH juga telah mengajukan surat pindah sehingga diharapkan dapat kembali fokus menjalani pendidikan di sekolah barunya.

“Biarkan persoalan ini selesai agar tidak ada pihak yang dirugikan, termasuk si DAH itu sendiri. Supaya DAH tetap bersekolah sampai lulus, tanpa ada hal-hal yang mengganggu mentalnya,” pungkas Suhenda.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.