JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID – Susu ikan saat ini sedang menjadi perbincangan hangat di Indonesia karena disebut-sebut akan menjadi alternatif pengganti susu sapi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden terpilih, Prabowo Subianto.
Namun, perlu diperjelas bahwa susu ikan bukanlah susu yang diperah dari ikan, melainkan produk olahan dari hidrolisat protein ikan (HPI), yang berasal dari daging ikan segar yang diolah menjadi bubuk.
Salah satu daya tarik susu ikan adalah potensinya untuk mendukung kemandirian protein dalam negeri, sekaligus memberikan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Jika susu ikan diintegrasikan dalam program MBG, hal ini tidak hanya akan mengurangi ketergantungan terhadap susu sapi, tetapi juga meningkatkan produk domestik bruto (PDB) negara serta menyumbang pajak seperti Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penghasilan Badan (PPh) Badan, dan Pajak Penghasilan Orang Pribadi (PPh OP).
Menurut Berikan Protein Initiative, menggantikan 1% susu sapi segar dengan susu ikan dapat menciptakan lebih dari 23.382 lapangan pekerjaan baru. Ini mencakup 10.250 pekerja di industri HPI, 5.932 di industri susu ikan, serta mendukung 7.200 nelayan.
Selain itu, sekitar 1.106 Bumdes dan koperasi diperkirakan akan tumbuh lebih besar.
Industri susu ikan yang berkembang juga memerlukan pasokan ikan segar yang lebih besar. Diprediksi, lebih dari 64.803 ton ikan dibutuhkan setiap tahunnya untuk mendukung produksi, dengan estimasi pendapatan nelayan mencapai Rp 648 miliar per tahun. Industri HPI sendiri diproyeksikan menghasilkan 12.300 ton per tahun, dengan nilai ekonomi sekitar Rp 1,8 triliun. Sementara itu, produksi susu ikan diestimasi mencapai 41.000 ton per tahun dengan nilai ekonomi sebesar Rp 4 triliun.
Selain berdampak ekonomi, pemanfaatan susu ikan juga dapat mengurangi limbah perikanan. Saat ini, sekitar 35% dari hasil tangkapan global sebesar 90,3 juta ton terbuang sia-sia, yang sebagian besar berasal dari hasil tangkapan yang tidak memiliki nilai jual (bycatch).
Dengan adanya industri susu ikan, ikan yang biasanya terbuang dapat dimanfaatkan, mengurangi pencemaran lingkungan pesisir serta mendukung ekosistem laut.
Program ini juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan nelayan, yang sebagian besar hidup di bawah garis kemiskinan.
Dengan lebih dari 90% dari 16,2 juta nelayan Indonesia yang masih miskin, upaya seperti ini diharapkan dapat memberikan akses pasar yang lebih baik dan mengurangi ketidakpastian pendapatan nelayan, sekaligus memperbaiki kualitas hidup mereka.










