The Ghost and the Gun Angkat Luka Perang Malaya 1948 dan Trauma Veteran di Layar Lebar

foto dok. film the ghost and the gun
foto dok. film the ghost and the gun

JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID – Kisah perang tidak selalu tentang pertempuran dan kemenangan. Di balik konflik bersenjata, ada luka batin, kehilangan, dan trauma yang dapat membekas selama bertahun-tahun. Perspektif kemanusiaan inilah yang diangkat dalam film drama aksi-sejarah “The Ghost and the Gun”, atau dikenal juga sebagai “Peluru Senj”*.

Mengambil latar Malaya pada 1948, setelah berakhirnya Perang Dunia II, film ini mengikuti perjalanan dua veteran perang, masing-masing seorang tentara Malaya dan tentara Inggris, yang terjebak di belakang garis musuh. Situasi tersebut menjadi awal dari kisah penuh ketegangan yang tidak hanya menguji kemampuan mereka bertahan hidup, tetapi juga memperlihatkan pergulatan batin di tengah konflik.

Bacaan Lainnya

Aktor Hazman Al Idrus yang menjadi pemeran utama mengaku mendapatkan pengalaman berharga ketika mendalami karakter dalam cerita tersebut. Baginya, film ini memberikan ruang untuk mengangkat sejarah melalui perspektif Asia sekaligus memperlihatkan dampak perang terhadap manusia.

“Bisa mendalami karakter dalam cerita yang mengangkat luka dan trauma sejarah dari sudut pandang kita sebagai orang Asia adalah pengalaman yang sangat luar biasa, terlebih saat menjalaninya di Bali dengan ekosistem produksi yang sangat profesional,” ungkap Hazman.

Disutradarai Anshul Tiwari dengan naskah karya Abhi Kumar, film ini menggunakan pendekatan penceritaan yang berpusat pada karakter. Latar belakang Anshul sebagai pembuat film dokumenter turut mewarnai penggarapan cerita yang menempatkan riset sejarah sebagai bagian penting dalam membangun suasana dan konflik.

Kisahnya juga menyinggung dampak penarikan pasukan Inggris terhadap masyarakat Malaya. Melalui latar tersebut, “The Ghost and the Gun” berupaya menghadirkan gambaran bahwa perubahan politik dan militer tidak hanya memengaruhi jalannya sejarah, tetapi juga kehidupan masyarakat yang berada di tengah pusaran konflik.

Kehadiran Asmara Abigail sebagai Siti turut memperkuat dimensi emosional cerita. Karakter tersebut menjadi representasi masyarakat lokal yang harus menghadapi situasi penuh ketidakpastian ketika konflik membayangi kehidupan sehari-hari.

Meski berlatar Malaya, seluruh proses produksi dan pengambilan gambar film ini dilakukan di Bali. Tim produksi membangun kembali suasana perkampungan dan kamp pertahanan era 1940-an untuk mendukung kebutuhan visual sekaligus menciptakan latar yang sesuai dengan periode sejarah yang diangkat.

Asisten Sutradara Richo Dharma menyoroti kerja sama tim sebagai salah satu faktor penting dalam merealisasikan kebutuhan produksi tersebut.

“Tantangan merekonstruksi suasana Malaya tahun 1948 di Bali bisa terwujud dengan sangat presisi karena solidnya kerja sama antara tim kreatif internasional dan keahlian kru teknis Indonesia yang luar biasa,” ujar Richo.

Film produksi Viking Sunset Studios ini dijadwalkan tayang di bioskop CGV Indonesia mulai 23 Oktober 2026. Melalui perpaduan drama, aksi, dan refleksi sejarah, “The Ghost and the Gun” menawarkan pengalaman sinematik yang tidak hanya menampilkan ketegangan konflik, tetapi juga mengajak penonton melihat sisi kemanusiaan di balik perang. (san/*) #foto dok. film the ghost and the gun

 

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.