Vihara Dhamma Budi Bhakti Siap Gelar Kirab Budaya dan Ruwat Bumi 2026

Vihara Dhamma Budi Bhakti Siap Gelar Kirab Budaya dan Ruwat Bumi 2026

KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Kota Tangerang kembali membuktikan diri sebagai rahim bagi masyarakat yang heterogen, di mana perbedaan suku, ras, dan agama justru menjadi perekat sosial yang kuat.

Salah satu bukti nyata dari indahnya hidup berdampingan secara harmonis ini tercermin dalam persiapan pergelaran akbar Kirab Budaya dan Ruwat Bumi yang diinisiasi oleh Vihara Dhamma Budi Bhakti (Butong) pada 27 September 2026 mendatang.

Bacaan Lainnya

Sebagai salah satu kota penopang megapolitan yang kaya akan warisan budaya—khususnya tradisi Tionghoa benteng yang mengakar kuat. Kota Tangerang konsisten merawat toleransi.

Agenda budaya ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan panggung perayaan kebinekaan yang terbuka bagi siapa saja.

Humas Kegiatan Kirab Budaya dan Ruwat Bumi 2026, Tomy, mengungkapkan bahwa antusiasme tahun ini sangat luar biasa. Sedikitnya 72 vihara dari berbagai penjuru Nusantara dipastikan akan ambil bagian dalam acara ini.

“Kegiatan ini diprediksi akan diikuti oleh kurang lebih 20.000 peserta. Mereka tidak hanya datang dari wilayah Kota Tangerang saja, tetapi juga dari luar daerah seperti Rembang, Semarang, Lampung, Palembang, Manado, hingga Singkawang,” ujar Tomy, Senin 18 Mei 2026.

Magnet Wisata dan Jaminan Harmoni

Melintasi rute sepanjang 8 kilometer, kirab ini akan menyuguhkan perpaduan estetis antara kekayaan budaya Nusantara dan eksotisme tradisi masyarakat Tionghoa.

Kehadiran ribuan peserta dengan latar belakang budaya yang kontras ini diyakini akan menjadi daya tarik (magnet) wisata yang luar biasa, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menyaksikan langsung potret Indonesia yang mini dan damai.

Catatan emas pergelaran ini sebenarnya sudah terukir sejak tujuh tahun silam. Pada tahun 2019, ajang serupa berhasil memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Capaian tersebut menjadi standar tinggi sekaligus pembuktian bahwa kolaborasi lintas budaya di Tangerang berjalan mapan.

Bagi Tomy dan segenap panitia, esensi dari suksesnya acara ini kelak bukanlah pengakuan formal semata, melainkan kebanggaan kolektif warga kota yang inklusif.

“Rekor ini bukan hanya untuk panitia, tetapi merupakan milik seluruh masyarakat Kota Tangerang yang selalu menjaga semangat kebersamaan,” pungkas Tomy.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.