KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID — Warga perkotaan terbukti dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil komersial dengan memanfaatkan energi surya dan biomassa sampah. Dua sumber energi bersih itu dipadukan untuk menggerakkan mesin pencacah sampah sekaligus menyediakan bahan bakar memasak.
Teknologi ramah lingkungan tersebut diterapkan di Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Banten. Kinerja instalasi pembangkit listrik tenaga surya dan kompor biomassa diperlihatkan langsung kepada publik pada Selasa 27 Oktober 2026.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat, Reno Fri Daryanto, menjelaskan bahwa fasilitas Tempat Olah Sampah di Sumbernya (TOSS) memerlukan pasokan listrik yang besar untuk menggerakkan mesinnya.
“Kalau programnya di sini adalah energi terbarukan, itu memang salah satu program unggulan kita. Jadi kita memasang instalasi energi terbarukan supaya kelompok di sini lebih mudah mengakses energinya. Untuk pengoperasian TOSS ini juga membutuhkan daya listrik yang cukup besar. Nah, di sini kita pasang solar panel 8,8 kWp untuk menghidupi alat pengolahan sampah ini,” kata Reno di Kelurahan Mekarsari, Selasa.
Panel surya di atap rumah produksi
Penyediaan fasilitas energi hijau ini sepenuhnya didukung program kemitraan sosial badan usaha milik negara bidang perminyakan tersebut. Panel surya dipasang di atap rumah produksi untuk menekan biaya listrik operasional.
Sistem kelistrikan surya itu dirancang secara hibrida, yakni menggabungkan panel penangkap cahaya dengan deretan baterai. Pengaturan arus otomatis membuat mesin tetap beroperasi stabil meski cuaca mendung.
Pengurus Bank Sampah Rukun Warga (RW) 03, Farand, bertugas mengawasi pembagian daya listrik tenaga surya. Pada siang hari, listrik dari matahari langsung dialirkan untuk mencacah tumpukan limbah organik kering dari warga.
“Jadi listrik ini dari panel surya. Kalau panel suryanya lagi bagus, maksudnya mataharinya lagi terang, listriknya langsung dipindahkan ke mesin. Tapi kalau cuaca lagi tidak bagus, misalnya hujan, yang dipakai adalah baterainya,” ujar Farand.
Sampah dedaunan jadi pelet biomassa untuk kompor
Menurut Farand, warga berhasil mengubah sampah dedaunan menjadi pelet biomassa padat berkualitas. Pelet dari campuran limbah organik itu dipakai sebagai bahan bakar utama kompor masak rumah tangga.
“Ini yang jadi bahan bakar. Tidak perlu pakai gas lagi. Karena kurang menarik kalau untuk dijual,” ucap Farand.
Anggota Karang Taruna RW 03, Siman Riandika, turut menguji ketahanan nyala kompor biomassa untuk kegiatan kepemudaan. Pelet biomassa lokal itu terbukti efektif menggantikan tabung elpiji di kalangan pemuda setempat.
“Kemarin kami coba 3 sampai 4 jam. Kalau sudah habis, kami tambahkan lagi, tambahkan lagi. Apinya juga besar,” ujar Siman.
Siman menilai efisiensi pembakaran biomassa sampah sangat menguntungkan warga saat menggelar acara kebersamaan di lingkungan. Pelet tersebut dibagikan secara cuma-cuma, sehingga mendorong warga aktif memilah sampah organik dari dapur masing-masing.
“Kalau untuk warga RW 3, kami tidak jual-beli. Dikasih saja,” kata Siman.








