TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID — Indonesian Food and Beverage Executive Association (IFBEC) DPD Banten memasuki usia ke-9 tahun dengan berbagai tantangan di industri makanan dan minuman. Organisasi ini juga terus mendorong kolaborasi dan inovasi untuk mendukung perkembangan pariwisata di Banten.
Ketua IFBEC DPD Banten Dimas Purbo mengatakan, salah satu tantangan terbesar adalah sulitnya mengumpulkan para pengurus. Sebab, sebagian besar pengurus merupakan pimpinan hotel yang memiliki kesibukan tinggi dalam operasional.
“Leader-leader itu orang yang di setiap hotel menempati posisi nomor satu. Terkadang mereka tidak bisa banyak meluangkan waktu karena tingkat hunian hotel yang padat, terutama saat ada event,” kata Dimas, saat dikonfirmasi Lensa Banten usai kegiatan di Le Semar Hotel Karawaci, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, pada Jumat, 14 Agustus 2026 malam.
Selain kesibukan, luasnya wilayah Banten juga menjadi kendala bagi IFBEC. Jarak antara wilayah Bandara Soekarno-Hatta hingga Tanjung Lesung membuat koordinasi antaranggota tidak selalu mudah.
Dimas mengatakan, tantangan lainnya berasal dari tren bisnis F&B yang terus berubah. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha harus mampu mengikuti perkembangan konsep dan selera konsumen.
“Tren bisnis F&B itu berubah-ubah. Konsep F&B tidak selalu sama, dari tahun ke tahun bahkan hari ke hari selalu berubah,” ujarnya.
Dorong Industri Pariwisata
Dimas menilai IFBEC memiliki peran penting dalam mendukung industri pariwisata di Banten. Sebab, sektor F&B memiliki cakupan luas, mulai dari hotel, restoran, bar, kafe hingga usaha pengolahan makanan.
“Dunia F&B itu beranekaragam kolaborasinya. Kita bukan hanya hotel saja, tapi restoran, bar, dan juga kafe-kafe,” katanya.
Ketua DPD PHRI Banten Ashok Kumar menilai IFBEC telah menunjukkan konsistensi selama sembilan tahun. Menurutnya, industri F&B membutuhkan kreativitas tinggi karena selera konsumen terus berubah.
“Kalau kami melihat, mereka konsisten dan berkomitmen. Kalau room division dengan F&B, itu lebih rumit F&B,” ujar Ashok.
Ashok menjelaskan, F&B tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga memiliki unsur seni dan budaya. Karena itu, sektor tersebut dinilai tidak akan pernah berhenti berkembang selama pelaku industrinya mampu berinovasi.
“Kalau kita bilang kuliner itu gastronomi, di situ ada seni, ada budaya, ada makanan. Jadi kalau kita bilang F&B, itu tidak ada matinya,” tuturnya.
F&B Jadi Penopang Hotel
Ashok mengatakan, kondisi industri perhotelan saat ini menghadapi tantangan setelah kegiatan MICE berkurang. Menurutnya, kondisi tersebut membuat sektor F&B semakin penting sebagai salah satu sumber pendapatan hotel.
“Sekarang itu mau tidak mau minimal kebayar listrik dan gaji karyawan. Itu fixed cost,” katanya.
Menurut Ashok, kemampuan di bidang F&B juga memberikan peluang bagi pekerja untuk membuka usaha sendiri. Berbeda dengan sejumlah bidang lain di hotel, keterampilan F&B dapat langsung diterapkan ketika seseorang membuka restoran atau kafe.
“Kalau orang kerja di F&B, dia bisa buka kafe. Ngitung cost sudah di luar kepala, bikin resepnya, jadi F&B itu sementara leading,” jelasnya.
Ia menambahkan, kreativitas menjadi salah satu kekuatan utama pelaku F&B. Berbagai bahan makanan dapat dikembangkan menjadi produk baru yang memiliki nilai jual.
Keanggotaan Terus Diperluas
Pembina IFBEC DPD Banten Zainul Bahar mengatakan, perkembangan organisasi selama sembilan tahun terakhir semakin luas. IFBEC kini tidak hanya berkolaborasi dengan industri hotel, tetapi juga perguruan tinggi, UMKM dan vendor.
“Di zaman Pak Dimas ini kita lebih berkembang dan lebih luas. Kita bergabung dengan beberapa universitas, ada Poltek Sahid, UMKM, dan vendor-vendor juga kita undang,” kata Zainul.
Zainul menyebut perkembangan industri F&B yang sangat cepat membuat pelaku usaha harus terus berinovasi. Mereka juga dituntut selalu mengikuti tren terbaru agar tidak tertinggal.
“F&B itu benar-benar dinamis. Jadi kita harus inovatif, karena setiap bulan bisa berganti trennya,” ujarnya.
Saat ini, IFBEC DPD Banten memiliki hampir 120 anggota. Namun, Dimas menyebut anggota yang aktif dalam berbagai kegiatan masih sekitar 50 orang karena terkendala jarak antarwilayah.
Sasar Wilayah Selatan Banten
Dimas mengatakan, IFBEC DPD Banten ke depan akan memperluas kegiatan ke wilayah selatan Banten. Sejumlah kawasan seperti Tanjung Lesung, Anyer dan sejumlah kawasan hotel lainnya masuk dalam rencana kegiatan organisasi.
“Kita rencana memang ke arah selatan. Hotel-hotel seperti Grand Elty, Raya, Tanjung Lesung dan Krakatau sudah masuk planning kita untuk mengadakan safari ataupun event-event setaraf,” kata Dimas.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat membuat aktivitas IFBEC lebih merata di seluruh wilayah Banten. Selain memperkuat organisasi, langkah itu diharapkan membuka lebih banyak peluang kolaborasi bagi pelaku industri F&B dan pariwisata.








