LEBAK, LENSABANTEN.CO.ID — Pencak silat tradisional khas Banten kembali mendapat perhatian dari mancanegara. Sebanyak 15 warga negara asing asal Italia mengikuti latihan pencak silat di Sanggar Putra Panglipur Banten, Kampung Pasir Malang, Desa Kaduagung Timur, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Sabtu 23 Mei 2026.
Kedatangan para pesilat asal Italia tersebut menjadi bukti bahwa seni bela diri tradisional Indonesia masih diminati masyarakat dunia di tengah perkembangan budaya modern.
Suasana latihan berlangsung semarak. Anak-anak hingga remaja dari sejumlah perguruan silat di wilayah Lebak dan Tangerang menampilkan berbagai jurus silat yang diiringi tabuhan gendang dan tiupan terompet tradisional khas Pasundan.
Para peserta dari Italia tampak antusias mengikuti setiap sesi latihan. Dengan mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan ikat kepala dan kain batik merah di pinggang, mereka mempelajari teknik dasar hingga gerakan berpasangan langsung dari para pelatih.
Ketua Perguruan Pukulan Penjak Silat Sera Italia, Massimilliano Morandini, mengatakan dirinya mulai mengenal pencak silat Indonesia sekitar dua dekade lalu dan rutin datang ke Indonesia untuk mendalami budaya lokal, khususnya budaya Banten.
“Empat tahun lalu saya pertama kali bertemu Ibu Imas. Saya senang bisa terus bekerja sama karena suasananya seperti keluarga besar,” kata Massimilliano melansir beritasatu.com, Minggu 24 Mei 2026.
Ia menilai pencak silat tradisional Banten memiliki karakter serta filosofi yang berbeda dibandingkan daerah lain di Indonesia. Selain itu, budaya masyarakat Banten dinilai masih kuat dan erat dengan nilai sejarah perjuangan.
“Saya menyukai budaya asli Banten. Masyarakatnya ramah dan saya merasa seperti bagian dari keluarga,” ujarnya.
Menurut Massimilliano, perguruan silat yang dipimpinnya di Italia kini memiliki sekitar 600 anggota dari beragam latar belakang profesi, mulai dari tenaga medis hingga kalangan muda.
“Kami berasal dari kota yang berbeda. Ada dokter, fisioterapis, spesialis tulang, dan anak-anak muda. Semua bergabung bersama,” katanya.
Selain mempelajari teknik bela diri, rombongan asal Italia juga tertarik mendalami unsur budaya lain yang melekat dalam pencak silat, seperti musik tradisional dan pengobatan tradisional.
“Saya tertarik dengan seluruh unsur budaya itu. Saya juga menulis buku tentang budaya karena setiap detail budaya sangat penting bagi saya,” tuturnya.
Pemilik Sanggar Putra Panglipur Banten, Imas, mengatakan kunjungan para pesilat asal Italia menjadi penyemangat bagi pihaknya untuk terus melestarikan budaya tradisional Banten, khususnya pencak silat.
“Alhamdulillah hari ini kami menerima kunjungan pesilat dari Italia. Ini menjadi bagian dari upaya kami melestarikan sekaligus memperkenalkan seni budaya pencak silat tradisional Banten,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, selama empat tahun terakhir sanggarnya telah beberapa kali menerima tamu dari luar negeri secara mandiri tanpa dukungan pemerintah.
“Kami berharap ke depan ada perhatian dan fasilitas dari pemerintah agar pelestarian budaya ini bisa semakin berkembang,” kata Imas.
Menurut dia, upaya menjaga kelestarian budaya juga dilakukan dengan mengenalkan pencak silat kepada anak-anak di sekitar sanggar melalui metode yang santai dan menyenangkan.
“Yang penting anak-anak merasa senang terlebih dahulu. Setelah itu mereka akan belajar sendiri dan ikut menjaga budaya,” katanya.










