KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Tawa tak selalu sekadar hiburan. Di tangan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS) Tangerang, tawa justru menjadi media untuk menyampaikan kritik, keresahan, hingga harapan kepada pemerintah.
Melalui kegiatan bertajuk “Tawa Dalam Doa”, mahasiswa menghadirkan panggung stand up comedy yang dikemas sebagai ruang aspirasi publik. Kegiatan ini merupakan proyek Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Manajemen Public Relations (PR).
Acara tersebut digelar oleh Badan Komunikasi Rakyat (BKR) dengan menghadirkan sederet komika asal Kabupaten Tangerang, yakni Mega Salsabila, Pedro Andrianus, Lutap, dan Mal Jupri. Panggung juga dimeriahkan komedian Kata Baba dan Nyak Kopsah yang menyelipkan kritik sosial dalam setiap materi komedinya.
Berbagai isu diangkat dalam pertunjukan tersebut, mulai dari pelayanan publik, pembangunan daerah, hingga persoalan yang dirasakan masyarakat sehari-hari. Meski dibalut humor, setiap materi tetap membawa pesan dan solusi yang ditujukan kepada para pemangku kebijakan.
Ketua Pelaksana kegiatan, Syahdan Maulana, mengatakan konsep “Tawa Dalam Doa” sengaja dibuat agar penyampaian aspirasi terasa lebih dekat dengan masyarakat. Menurutnya, komedi menjadi bahasa yang mudah dipahami tanpa menghilangkan makna kritik yang disampaikan.
“Event ini kami namakan ‘Tawa Dalam Doa’ melalui Badan Komunikasi Rakyat. Harapan kami, aspirasi mahasiswa bisa didengar pemerintah lewat tawa dan candaan yang kami tampilkan,” kata Syahdan, saat dikonfirmasi Lensa Banten usai kegiatan pada Rabu, 8 Juli 2026.
Namun, acara tersebut belum berjalan sepenuhnya sesuai harapan. Sejumlah kepala daerah yang telah diundang tidak hadir sehingga dialog langsung dengan mahasiswa urung terlaksana.
Syahdan mengaku kecewa atas ketidakhadiran para pejabat tersebut. Meski begitu, panitia memastikan seluruh rangkaian kegiatan akan dipublikasikan melalui media sosial agar pesan yang disampaikan tetap sampai kepada pemerintah.
“Tentu kami kecewa karena ingin mendengar langsung tanggapan dari mereka. Tetapi hasil kegiatan ini tetap akan kami publikasikan agar mereka yang tidak hadir bisa melihat aspirasi yang kami sampaikan,” ujarnya.
Menurut Syahdan, pendekatan stand up comedy terbukti cukup efektif sebagai media komunikasi publik. Sebab, para komika tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga memberikan apresiasi terhadap kebijakan yang dinilai sudah berjalan baik.
“Menurut saya sangat efektif. Ada kritik, tetapi juga ada dukungan kepada pemerintah. Jadi bukan hanya mengkritik saja,” jelasnya.
Di balik suksesnya acara, panitia juga menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari penyusunan kepanitiaan hingga persiapan teknis menjelang pertunjukan.
“Pasti ada kendala, mulai dari penyusunan panitia sampai gladi bersih. Tapi semuanya bisa kami lalui bersama,” tuturnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut merupakan tugas praktik mahasiswa semester 4 pada mata kuliah Manajemen Public Relations yang diampu oleh dosen Miftahul Adib. Panitia pun berharap kegiatan serupa dapat terus digelar pada semester-semester berikutnya.
“Insyaallah kegiatan ini akan terus kami lanjutkan. Harapan kami, semua aspirasi mahasiswa bisa didengar dan menjadi bahan perbaikan bagi pemerintah,” pungkasnya.
Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah Manajemen Public Relations, Miftahul Adib, menilai kegiatan tersebut menjadi jembatan komunikasi antara mahasiswa dengan pemerintah, khususnya dalam menyampaikan suara generasi Z. Menurutnya, Badan Komunikasi Rakyat dibentuk sebagai ruang untuk menyampaikan kritik yang membangun dengan pendekatan akademis.
“Ini adalah event mahasiswa melalui Badan Komunikasi Rakyat sebagai jembatan komunikasi kepada pemerintah, khususnya bagi Gen Z. Mereka menyampaikan kritik yang solutif terhadap berbagai kebijakan di Tangerang Raya dan Banten,” ujar Miftahul.
Ia juga menyayangkan ketidakhadiran para pejabat yang diundang. Padahal, menurutnya, merekalah pihak yang paling berkepentingan mendengarkan suara masyarakat yang disampaikan melalui cara yang kreatif dan santun.
“Setiap tawa itu ada doa, dan setiap tawa juga ada kritik. Kami menyayangkan karena seharusnya para pemangku kepentingan hadir untuk mendengar langsung keresahan masyarakat yang disampaikan mahasiswa,” katanya.
Menurut Miftahul, kritik yang dikemas melalui stand up comedy justru memiliki kekuatan tersendiri. Pesan yang dibawakan lebih mudah diterima karena disampaikan dengan humor, tetapi tetap berdasarkan data, fakta, dan solusi.
“Kritik bisa disampaikan sambil bercanda, tetapi muatannya tetap serius. Ini bisa menjadi masukan bagi kepala daerah dalam menyusun kebijakan ke depan,” jelasnya.
Ia menilai pendekatan seperti ini tidak perlu dibandingkan dengan aksi demonstrasi di jalan. Sebab, keduanya memiliki fungsi yang berbeda dalam menyampaikan aspirasi masyarakat.
“Bukan soal membandingkan dengan demo. Kegiatan seperti ini perlu mendapat dukungan karena kritik disampaikan dalam kerangka akademis dan cenderung lebih berbobot,” ungkapnya.
Ke depan, BKR akan terus dikembangkan sebagai gerakan sosial mahasiswa. BKR juga direncanakan menggandeng komedian, seniman, hingga berbagai pemangku kepentingan sebagai upaya memperkuat kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah.
“Badan Komunikasi Rakyat akan kami buat lebih masif sebagai media komunikasi dan kontrol sosial, khususnya terhadap kebijakan di Tangerang Raya dan Banten,” tutupnya.










