Menilik Perahu Naga Warisan Hindia Belanda di Jantung Kota Tangerang

KOTA TANGERANG, LENSABANTEN. CO. ID– Di balik gemerlap perkembangan Kota Tangerang, tersimpan saksi bisu sejarah peradaban masyarakat Tionghoa yang masih terjaga kokoh di kawasan Kelenteng Boen Tek Bio.

Dua perahu naga kuno yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa Benteng kini tersimpan sebagai artefak berharga yang menyimpan cerita lintas zaman.

Bacaan Lainnya

Bendahara Yayasan Boen Tek Bio, Kardiman, mengungkapkan bahwa perahu naga tersebut merupakan peninggalan era kolonial Hindia Belanda. Berdasarkan catatan sejarah yang dipegang pihak yayasan, perahu ini diserahkan oleh pemerintah kolonial kepada pihak kelenteng pada tahun 1910.

“Perahu ini sudah jadi saat diserahkan pada 1910. Kalau melihat jenis kayunya, kemungkinan besar pembuatannya jauh lebih tua, bisa jadi dari tahun 1800-an,” ujar Kardiman saat ditemui baru-baru ini.

Meski usianya telah mencapai lebih dari satu abad, material kayu yang digunakan perahu ini terbukti memiliki ketahanan yang luar biasa. Kardiman menyebut, kondisi fisik perahu masih sangat utuh dan terjaga baik.

“Kayunya masih bagus sekali. Materialnya adalah kayu damar laut, sementara untuk bagian struktur rangkanya diperkirakan menggunakan kayu jati yang memang dikenal kuat,” tambahnya.

Pernah Jadi Ikon Budaya

Sebelum akhirnya dipensiunkan sebagai koleksi museum, perahu-perahu ini aktif digunakan dalam perhelatan budaya masyarakat setempat. Tercatat, perahu naga tersebut terakhir kali mengarungi sungai dalam kompetisi dayung pada tahun 2014, sebelum akhirnya pihak yayasan memutuskan untuk membuat replika demi menjaga keaslian artefak kuno tersebut.

“Terakhir digunakan untuk perlombaan budaya tahun 2013 atau 2014. Sekarang yang aslinya kami simpan, dan untuk kebutuhan acara sudah ada duplikatnya,” jelas Kardiman.

Secara teknis, perahu naga ini memiliki kapasitas yang cukup besar. Dengan panjang mencapai 20,5 hingga 22 meter, satu unit perahu mampu menampung 23 orang yang terdiri dari 20 pendayung, satu orang juru mudi, dan dua pengatur instrumen musik atau pemberi aba-aba.

Perawatan Rutin

Untuk memastikan artefak ini tidak dimakan usia, pihak Yayasan Boen Tek Bio menunjuk tenaga khusus, yakni Jaka, untuk melakukan pemeliharaan rutin. Mengingat perahu kini tidak lagi berada di air, risiko kerusakan utama lebih banyak disebabkan oleh cuaca dan faktor alamiah.

Napas Panjang Perahu Naga Tua: Simbol Akulturasi yang Menolak Lupa
Perahu naga tertua di kota Tangerang

“Perawatannya dilakukan minimal tiga hingga empat bulan sekali. Kami bersihkan dan lakukan penambalan jika ada bagian kayu yang renggang karena faktor cuaca saat sempat lama tidak digunakan,” ungkap Jaka, sang perawat perahu.

Jaka menegaskan, meskipun sudah berusia sangat tua, kondisi perahu tidak terserang rayap karena sistem penyimpanan yang digantung. Perhatian dari komunitas Tionghoa Benteng pun terus mengalir, baik dalam bentuk dukungan operasional maupun perhatian terhadap kelestarian tradisi.

Hingga saat ini, dua perahu naga tersebut tetap menjadi simbol kebudayaan yang berharga, mencerminkan jejak akulturasi dan sejarah panjang komunitas Tionghoa di Kota Tangerang yang terus dirawat oleh generasi penerus.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.