WASHINGTON, LENSABANTEN.CO.ID — Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini menempatkan militer AS pada posisi dilematis. Bukan hanya risiko eskalasi di medan tempur, Washington kini dibayang-bayangi krisis kelangkaan persenjataan akibat tingginya laju penggunaan amunisi yang tak sebanding dengan kapasitas produksinya.
Berdasarkan analisis berbagai lembaga riset pertahanan AS dan laporan koresponden Al Jazeera dari Washington, persediaan persenjataan utama militer Amerika Serikat mencatatkan penurunan signifikan.
Penipisan ini mencakup sistem pertahanan udara utama seperti rudal pencegat Patriot dan THAAD, hingga persenjataan ofensif strategis seperti rudal Tomahawk, ATACMS, dan PrSM.
Meski Gedung Putih menegaskan pasokan persenjataan nasional masih dalam taraf aman, para pakar pertahanan memberikan peringatan keras.
Masalah utamanya terletak pada penciptaan celah cadangan strategis serta lambatnya respons rantai pasok manufaktur pertahanan untuk mengganti persenjataan secepat tingkat penggunaannya di lapangan.
Krisis ini dilaporkan merembet hingga ke rantai pasok bahan mentah, terutama persediaan mineral langka yang menjadi komponen vital dalam pembuatan teknologi persenjataan modern.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pengambil kebijakan Washington. Jika konflik dengan Iran meluas atau berlangsung berkepanjangan, kemampuan militer AS untuk menjaga daya gentar (deterrence) sekaligus merespons potensi krisis di belahan dunia lain diperkirakan akan berada dalam tingkat kerentanan yang serius.








