SERANG, LENSABANTEN.CO.ID– Sakit maag, perut kembung, mual, hingga nyeri ulu hati kerap dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, keluhan yang terlihat serupa itu bisa dipicu oleh berbagai penyakit dengan tingkat keparahan yang berbeda, mulai dari gastritis, tukak lambung, polip, hingga kanker saluran cerna.
Karena itu, dokter tidak hanya mengandalkan cerita pasien mengenai gejala yang dirasakan. Salah satu pemeriksaan yang dinilai paling akurat untuk mengetahui penyebabnya adalah endoskopi, yakni prosedur yang memungkinkan dokter melihat langsung kondisi bagian dalam saluran cerna secara real-time.
Endoskopi dilakukan menggunakan alat berbentuk selang tipis dan lentur yang dilengkapi kamera serta sumber cahaya di ujungnya. Alat tersebut dimasukkan melalui mulut atau anus, tergantung bagian saluran cerna yang akan diperiksa.
Berbeda dengan pemeriksaan pencitraan seperti USG atau rontgen yang hanya memberikan gambaran dari luar, endoskopi memungkinkan dokter melihat kondisi permukaan organ secara langsung.
Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan adanya peradangan, luka, perdarahan, polip, hingga pertumbuhan jaringan yang mencurigakan.
Tak hanya berfungsi sebagai alat diagnosis, endoskopi juga dapat dilakukan bersamaan dengan tindakan medis. Dokter dapat mengangkat polip, menghentikan perdarahan, maupun mengambil sampel jaringan untuk biopsi tanpa perlu operasi terbuka.
“Endoskopi adalah mata kami untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam saluran cerna pasien. Banyak kondisi yang gejalanya mirip satu sama lain di permukaan, namun penyebab dan penanganannya bisa sangat berbeda. Tanpa endoskopi, kami sering hanya bisa menebak dan menebak bukan dasar yang baik untuk pengobatan,” ujar Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi Bethsaida Hospital Serang, dr. Rolan Sitompul, Sp.PD, KGEH.
Menurut dr. Rolan, jenis endoskopi yang paling umum dilakukan adalah endoskopi saluran cerna atas dan kolonoskopi.
Endoskopi saluran cerna atas dilakukan melalui mulut untuk memeriksa kerongkongan, lambung, hingga usus dua belas jari. Pemeriksaan ini umumnya dianjurkan bagi pasien yang mengalami nyeri ulu hati berkepanjangan, sulit menelan, muntah darah, atau diduga mengalami tukak lambung maupun infeksi bakteri Helicobacter pylori melalui pemeriksaan biopsi.
Sementara itu, kolonoskopi dilakukan melalui anus untuk memeriksa seluruh usus besar dan bagian akhir usus halus. Prosedur ini menjadi salah satu metode utama dalam mendeteksi polip usus, kanker kolorektal stadium dini, penyakit radang usus, hingga sumber perdarahan saluran cerna bagian bawah.
Melalui endoskopi, dokter juga dapat mendeteksi berbagai penyakit lain seperti gastritis, GERD, esofagitis, penyakit Crohn, kolitis ulseratif, varises esofagus, hingga kanker lambung maupun kanker kolorektal pada tahap awal ketika peluang keberhasilan pengobatan masih tinggi.
Banyak orang menganggap endoskopi sebagai prosedur yang menakutkan. Padahal, menurut dr. Rolan, pemeriksaan saat ini telah didukung dengan sedasi sehingga pasien dapat menjalani tindakan dengan lebih nyaman.
Sebelum pemeriksaan, pasien diminta berpuasa beberapa jam agar saluran cerna dalam kondisi kosong. Untuk kolonoskopi, pasien juga perlu mengonsumsi obat pencahar guna membersihkan usus besar.
Selama tindakan berlangsung, dokter memasukkan endoskop secara perlahan sambil mengamati gambar kondisi saluran cerna melalui monitor. Proses pemeriksaan biasanya berlangsung sekitar 15 hingga 30 menit, tergantung jenis tindakan yang dilakukan.
“Saya memahami bahwa banyak pasien yang merasa cemas sebelum menjalani endoskopi. Tapi setelah menjalaninya, hampir semua mengatakan hal yang sama ternyata tidak seburuk yang dibayangkan. Dengan sedasi yang tepat, prosedur ini jauh lebih nyaman daripada yang banyak orang kira, dan informasi yang didapatkan jauh lebih berharga daripada rasa cemas sesaat sebelum tindakan,” kata dr. Rolan.
Ia menambahkan, pemeriksaan endoskopi sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika gejala sudah berat. Orang yang mengalami gangguan pencernaan menetap lebih dari dua minggu, sulit menelan, muntah darah, buang air besar berwarna hitam, mengalami penurunan berat badan tanpa sebab jelas, anemia yang tidak diketahui penyebabnya, hingga memiliki riwayat keluarga kanker saluran cerna dianjurkan berkonsultasi dengan dokter.
Selain itu, kolonoskopi juga direkomendasikan sebagai skrining rutin bagi masyarakat berusia 45 hingga 50 tahun, meski belum memiliki keluhan, untuk mendeteksi kanker kolorektal sedini mungkin.
Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirta Mulya Juandi, mengatakan rumah sakitnya terus memperkuat layanan diagnostik gastroenterologi melalui fasilitas endoskopi modern yang ditangani dokter konsultan berpengalaman.
“Kami ingin masyarakat Banten memiliki akses terhadap deteksi dini penyakit saluran cerna tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke kota besar,” ujar dr. Tirta.








