TANGERANG, LENSABANTEN. CO. ID – Dalam rangka mendukung pendekatan implementasi Disrict-Based Public-Private Mix (DPPM), SR Konsorsium Penabulu-STPI Provinsi Banten ikut serta mengambil peran untuk memperkuat jejaring layanan TBC setiap pendampingan pasien berbasis komunitas.
Hal tersebut dilakukan dengan pertemuan periodik komunitas dengan pemangku kepentingan untuk peningkatan layanan TBC dalam jejaring DPPM di aula Dinas Kesehatan Kota Tangerang.
Staf program SR Banten Subhan dalam sambutannya menjelaskan saat ini kondisi kasus TBC di Kota Tangerang sudah hijau.
“Namun untuk temuan kasus baru ini masih dibawah 60 persen. Target kita persemester semua indikator se Banten, yang sudah mencapai target cilegon dan kota Serang, ” Ungkapnya di Kota Tangerang, Jumat (21/7/2023).
Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa di kota Tangerang angkanya relatif baik. Datanya intinya bisa dipertanggungjawabkan.
Ia pun mengapresiasi di kota Tangerang telah memiliki perwal penanggulangan TBC. “Itu menjadi justifikasi menjadi upaya hukum di beberapa daerah memang belum ada, ” Imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, Dr Lisa Felina sub kordinator P3M Dinas Kesehatan Kota Tangerang menyampaikan, pihaknya terus mengoptimalkan agar angka loss to follow up (LTFU) terus bisa ditekan. Sejumlah tantangannya terus ditangani sehingga bisa menemukan solusinya.
Terkait hal itu, kata Lisa, Penabulu siap membantu sehingga temuan di lapangan dapat dengan segera teratasi. Ia memberi contoh jika terjadi soal ekonomi pasien yang tidak mampu maka bisa dikoordinasikan dengan Dinkes yang akan bekerjasama dengan Baznas kota Tangerang.
Maka itu ia pun meminta semua kader yang hadir dalam acara diskusi di Aula C Dinkes Kota Tangerang serta petugas dapat bekerja dengan hati.
“Kalau temen-temen tidak melaksanakan dari hati kita tidak bisa selesaikan persoalan kasus TBC. Maka itu ayo, kita temukan obati sampai sembuh (toss) sesuai dengan slogan, ” Ujarnya.
Kata Lisa, untuk obat-obatan di Kota Tangerang tidak kekurangan seperti ditemui di daerah lainnya.Maka itu, pasien harus terus dapat dimotivasi dan didorong untuk mau mengkonsumsi obat secara teratur sesuai aturan.
Manager Kasus DPPM Kota Tangerang Fitri novi Dewi menjelaskan, berdasarkan catatan yang dihimpun ada 170 pasien TBC yang berhasil dikunjungi dan dilacak. Namun hanya 70 orang yang berhasil kembali melakukan pengobatan.
“Ada 38 pasien menolak pengobatan dengan berbagai alasan misalnya enggan minum karena efek samping obat yang mual, kondisi ekonomi, memilih pengobatan alternatif dan lain-lain. Kemudian 20 pasien meninggal, ” Terangnya dalam paparannya.









