Novel Lama, Realita yang Sama

Novel Lama, Realita yang Sama
Novel Lama, Realita yang Sama

LENSABANTEN.CO.ID —Belakangan ini, media sosial ramai dengan berbagai diskusi soal tekanan standar sosial, hingga cerita-cerita tentang luka batin dalam hubungan.

Banyak yang mengira isu-isu ini adalah “produk baru” dari kehidupan modern. Padahal, kalau ditarik ke belakang, suara-suara seperti ini sudah ada sejak lama.

Bacaan Lainnya

Salah satunya dapat ditemukan dalam novel Kehilangan Mestika (1935) karya Fatimah Hasan Delais, yang menulis dengan nama pena Hamidah. Meski ditulis hampir satu abad lalu, isi ceritanya terasa dekat banget dengan realitas hari ini.

Novel ini bercerita tentang Hamidah, seorang perempuan muda yang cerdas dan punya cita-cita besar: ingin memajukan kaumnya lewat pendidikan.

Tapi jalan yang ia pilih tidak mudah. Ia harus berhadapan dengan tradisi pingitan dan pola pikir masyarakat yang kuat mengenai nilai-nilai patriarki.

Di sinilah konflik mulai terasa, antara keinginan untuk maju dan tekanan dari lingkungan sekitar. Yang membuat cerita ini kuat adalah bagaimana perasaan Hamidah digambarkan dengan jujur dan dalam.

Pembaca bisa merasakan kegelisahan, kekecewaan, bahkan kepedihannya ketika harus menghadapi stigma sosial dan campur tangan keluarga dalam hidup pribadinya. Kritik yang disampaikan juga terasa tajam, terutama soal bagaimana masyarakat sering mencampuradukkan adat dengan ajaran agama.

Namun, bukan berarti novel ini tanpa kekurangan. Buat pembaca sekarang, bagian akhir cerita mungkin terasa cukup berat. Nuansa sedihnya sangat dominan, dan Hamidah harus kehilangan banyak hal berharga dalam hidupnya, mestika yang ia sayangi secara bertubi-tubi. Ending nya pun terasa sangat cepat.

Meskipun begitu, Kehilangan Mestika tetap penting untuk dibaca ulang. Novel ini bukan sekadar cerita lama, tapi juga bukti bahwa perjuangan perempuan sudah berlangsung sejak dulu.

Apa yang hari ini kita bahas di media sosial, ternyata sudah pernah diperjuangkan dengan cara yang berbeda di masa lalu. Membaca novel ini seperti diingatkan: kebebasan yang sekarang terasa “biasa” ternyata lahir dari proses panjang, penuh luka, dan tidak mudah.

Ditulis oleh : Nadine Ilma Humairoh mahasiswa Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.