JAKARTA, LENSA BANTEN. CO. ID– Malnutrisi pada anak masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan kesehatan nasional. Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Provinsi Banten tercatat sebesar 21,1 persen, sehingga upaya pencegahan dan penanganannya masih memerlukan kolaborasi berbagai pihak guna mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045.
Selain menghambat pertumbuhan, kondisi stunting, wasting, dan underweight meningkatkan risiko anak terkena penyakit infeksi yang dapat berdampak pada kualitas hidup serta menambah beban biaya kesehatan.
Karena itu, anak yang mengalami gangguan gizi perlu segera mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat, termasuk melalui intervensi nutrisi khusus.
Penelitian terbaru bertajuk A Nutrient-Dense Formula in Undernourished Children in Indonesia: A Cost-Effective Strategy yang dipresentasikan Associate Professor Muh. Akbar Bahar dari Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin pada ajang ISPOR Europe 2025 di Glasgow, Skotlandia, menunjukkan bahwa penggunaan Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) atau Nutrient-Dense Formula (NDF) berpotensi menurunkan prevalensi stunting sebesar 34,5 persen, wasting 72,7 persen, dan underweight 51,7 persen.
Menurut Akbar, jika diterapkan secara luas, intervensi tersebut diperkirakan mampu mencegah sekitar 1,6 juta kasus stunting, 1,2 juta kasus wasting, dan 1,9 juta kasus underweight pada anak Indonesia.
Penelitian itu juga menunjukkan perbaikan status gizi dapat menekan risiko berbagai penyakit infeksi. Kasus tuberkulosis diproyeksikan turun hingga 47,2 persen dan pneumonia 44,7 persen, atau setara dengan pencegahan sekitar 1,2 juta kasus TB dan 1 juta kasus pneumonia.
Selain itu, kasus ISPA dan diare diperkirakan dapat berkurang masing-masing hingga 2,6 juta dan 2 juta kasus.
“Intervensi nutrisi tidak hanya meningkatkan berat badan dan tinggi badan anak, tetapi juga menurunkan risiko infeksi, mengurangi kebutuhan pengobatan, serta meningkatkan kualitas hidup. Karena itu, program nutrisi harus dipandang sebagai investasi kesehatan masyarakat yang memberikan manfaat kesehatan dan ekonomi sekaligus,” kata Akbar.
Dari sisi ekonomi, penelitian tersebut memperkirakan penghematan biaya pengobatan mencapai Rp2,46 triliun untuk TB, Rp3,88 triliun untuk pneumonia, Rp2,40 triliun untuk ISPA, dan Rp3,38 triliun untuk diare. Analisis kesehatan juga menunjukkan intervensi nutrisi tersebut memiliki efektivitas biaya hingga tujuh kali lebih baik dibanding ambang batas yang digunakan di Indonesia.
Founder dan Chairman Health Collaborative Center (HCC), Ray Wagiu Basrowi, menilai hasil penelitian tersebut menjadi bukti penting bahwa intervensi gizi yang tepat dapat memberikan dampak kesehatan dan ekonomi yang signifikan.
Menurut dia, penggunaan PKMK harus tetap mengacu pada regulasi yang berlaku serta didukung bukti klinis yang kuat agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh anak-anak Indonesia yang mengalami masalah gizi.
Ray menambahkan, inovasi nutrisi seperti SGM Eksplor Gain Optigrow yang diproduksi di dalam negeri menjadi salah satu alternatif untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak yang berisiko mengalami gagal tumbuh, gizi kurang, maupun gizi buruk.
Momentum Hari Lahir Pancasila, lanjut dia, menjadi pengingat pentingnya memastikan setiap anak Indonesia memperoleh hak atas gizi yang memadai.
Pemenuhan gizi yang optimal dinilai menjadi fondasi dalam mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan mampu bersaing menuju Indonesia Emas 2045.










