CILEGON, LENSABANTEN.CO.ID — PT Krakatau Steel (Persero) Tbk resmi menandatangani nota kesepahaman dengan Vietnam Steel Corporation dalam ajang International Southeast Steel Industry Exhibition (ISSEI) 2025. Dalam kerja sama tersebut, Krakatau Steel berkomitmen mengekspor 120.000 ton baja jenis hot rolled coil (HRC) selama satu tahun.
Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, mengatakan ekspor ini menandai optimalisasi kembali produksi di Pabrik Hot Strip Mill 1, Cilegon, pasca pemulihan. “Ini menunjukkan kesiapan kami kembali bersaing secara regional,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta International Convention Center.
Kerja sama ini juga menjawab kebutuhan Vietnam akan pasokan baja yang stabil di tengah tekanan dari lonjakan impor China dan Korea Selatan. Sebelumnya, Asosiasi Baja Vietnam meminta pemerintahnya menerapkan tarif untuk melindungi industri domestik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang membuka ISSEI 2025, menegaskan pentingnya sinergi antarnegara ASEAN dalam menghadapi tekanan global. Ia menyebutkan bahwa kontribusi industri pengolahan terhadap PDB Indonesia mencapai 19,25 persen pada kuartal I 2025, sementara ekspor besi dan baja tumbuh rata-rata 22,18 persen dalam lima tahun terakhir.
“Sudah saatnya ASEAN membentuk kolaborasi nyata untuk memperkuat industri baja kawasan,” kata Airlangga di booth Krakatau Steel.
Bangun Kepemimpinan Baja ASEAN
Langkah Krakatau Steel ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menjadikan Indonesia sebagai hub baja bernilai tambah di ASEAN. Selain Vietnam, perusahaan pelat merah itu juga menjalin kemitraan dengan mitra dari Timur Tengah dan Eropa.
Produk yang akan dikembangkan tidak hanya baja mentah, tetapi juga mencakup baja otomotif untuk kendaraan listrik, baja pertahanan yang mendukung industri strategis nasional, serta baja konstruksi ramah lingkungan.
Kerja sama ini juga mendukung program hilirisasi nasional dan komitmen peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Krakatau Steel mendorong pertukaran material dan harmonisasi spesifikasi antarnegara ASEAN sebagai bagian dari integrasi industri kawasan.
ASEAN Iron & Steel Council Resmi Dibentuk
Penandatanganan MoU ini juga menjadi bagian dari pembentukan ASEAN Iron & Steel Council, yang melibatkan enam negara: Indonesia, Vietnam, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Filipina. Tujuannya adalah memperkuat ketahanan rantai pasok baja dan membangun aliansi strategis kawasan menghadapi ketidakpastian global.
ISSEI 2025 yang berlangsung pada 21–23 Mei menjadi forum penting bagi pelaku industri baja dari sektor hulu hingga hilir, termasuk regulator dan investor. Dengan tema “Baja Nasional, Daya Saing Regional,” Krakatau Steel menunjukkan bahwa ekspansi dari Cilegon hingga Hanoi bukan sekadar ambisi, melainkan bagian dari transformasi industri baja nasional menuju kancah regional.









