TANGSEL, LENSABANTEN.CO.ID – Menurunnya kualitas udara di Kota Tangerang Selatan (Tangael) tidak dapat dianggap sepele.
Pasalnya konsentrasi PM 2,5 berasa di 60 (ug/m3) empat kali lipat melampau pedoman organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Buruknya kualitas udara di Tangsel akan berdampak langsung bagi kesehatan masyarakat dalam jangka pendek dan menengah. Semua itu dapat berimplikasi pada menurunnya produktifitas masyarakat.
“Dari laporan indeks kualitas udara menunjukan penurunan yang drastis. Hal ini perlu segera diantisipasi pemerintah daerah,” ujar pengamat kebijakan publik IDP-LP, Riko Noviantoro kepada Lensa banten, Kamis 10 Agustus 2023.
Setidaknya, lanjut Riko Noviantoro terdapat tiga langkah yang diperlukan pemerintah. Pertama pemberitahuan kepada publik. Pemerintah perlu menginformasikan secara massif kondisi udara di Tangerang Selatan untuk menumbuhkan kesadaran bersama di lingkungan masyarakat.
Kedua, sambung Riko, pemerintah harus segera melakukan penguatan layanan kesehatan. Jaringan layanan kesehatan tingkat pertama dan lanjutan, sepeti puskesmas, klinik sampai rumah sakit perlu antisipasi terhadap lonjakan penderita gangguan pernafasan.
“Ketiga pemerintah perlu segera melakukan komuniaksi structural dengan pemerintah pusat dan pemeritnah daerah sekitar. Agar dilakukan upaya terhadap pemicu menurunnya kualitas udara di Tangerang Selatan,” pungkasnya.
Pada sisi lain, Riko berharap masyarakat juga melakukan upaya proteksi dini terhadap kondisi kualitas udara di Tangsel. Antara lain penggunaan masker, pembatasan aktifitas luar ruang dan penggunaan fasilitas pembersih udara di lingkungan rumah.










