Gejala Burnout dan Cara Mengatasinya

SERANG, LENSABANTEN. CO. ID-  Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dari Bethsaida Hospital Serang, dr. Margaretha, Sp.KJ, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kondisi burnout atau kelelahan kronis akibat tekanan kerja yang berlangsung dalam jangka panjang.

​Ia menjelaskan bahwa burnout bukan sekadar rasa lelah biasa yang dapat hilang dengan istirahat singkat, melainkan kondisi yang memengaruhi kesehatan fisik, emosional, hingga mental seseorang secara menyeluruh.

Bacaan Lainnya

​Sebagai catatan, fenomena ini telah diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan dimasukkan ke dalam International Classification of Diseases (ICD-11) sejak 2019 sebagai kondisi kesehatan yang berkaitan erat dengan lingkungan pekerjaan.

“Burnout bukan tentang tidak cukup kuat atau tidak cukup bersyukur. Burnout terjadi karena terlalu lama memberi tanpa cukup mengisi kembali. Dan itulah yang perlu kita ubah bukan orangnya, tapi caranya,” jelas dr. Margaretha, Rabu 7 Juli 2026.

Menurutnya, burnout biasanya muncul secara bertahap dan sering kali diabaikan karena dianggap hanya akibat beban pekerjaan yang sedang meningkat.

Beberapa gejala fisik yang perlu diwaspadai antara lain kelelahan berkepanjangan meski sudah beristirahat, gangguan tidur, sakit kepala, nyeri otot, gangguan pencernaan tanpa penyebab yang jelas, hingga daya tahan tubuh yang menurun.

Dari sisi emosional, seseorang dapat kehilangan antusiasme terhadap pekerjaan, mudah tersinggung, merasa hampa, kehilangan motivasi, serta merasa usahanya tidak pernah dihargai.

Sementara dari sisi perilaku, burnout dapat ditandai dengan menurunnya produktivitas, sering menunda pekerjaan, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga bergantung pada kafein atau kebiasaan lain sebagai pelarian.

Burnout juga berbeda dengan stres kerja biasa. Pada kondisi stres, seseorang masih memiliki motivasi dan dapat pulih setelah beristirahat atau berlibur.

Sebaliknya, burnout membuat seseorang merasa benar-benar kosong sehingga waktu istirahat pun tidak lagi mampu mengembalikan energinya.

Sejumlah faktor dapat memicu burnout, seperti beban kerja yang berlebihan, kurangnya kendali terhadap pekerjaan, minim apresiasi, lingkungan kerja yang tidak sehat, pekerjaan yang tidak sesuai dengan nilai pribadi, hingga tidak adanya batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Untuk membantu proses pemulihan, seseorang disarankan mengakui kondisi yang dialami, menetapkan batas waktu kerja yang jelas, menjaga pola tidur dan makan, rutin berolahraga, meluangkan waktu untuk aktivitas yang disukai, serta berbicara dengan orang terdekat atau tenaga profesional.

Apabila gejala tidak kunjung membaik, muncul kecemasan atau depresi, aktivitas sehari-hari terganggu, atau timbul keinginan menyakiti diri sendiri, konsultasi dengan dokter atau psikiater perlu segera dilakukan.

“Pemulihan dimulai dari keberanian untuk berkata: saya butuh bantuan. Dan itu adalah hal yang paling kuat yang bisa dilakukan seseorang,” kata dr. Margaretha.

Bethsaida Hospital Serang menyediakan layanan konsultasi kesehatan jiwa yang ditangani dokter spesialis kedokteran jiwa untuk membantu masyarakat yang mengalami berbagai masalah kesehatan mental, termasuk burnout.

Direktur Bethsaida Hospital Serang dr. Tirta mengatakan, kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh.

“Kesehatan mental adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh. Di Bethsaida Hospital Serang, kami berkomitmen untuk menghadirkan ruang yang aman, hangat, dan bebas stigma bagi setiap individu yang membutuhkan dukungan termasuk mereka yang sedang berjuang dengan tekanan dan kelelahan di tempat kerja,” ujarnya.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.