Konsep ruang kerja dari kafe dipadukan dengan minuman racikan sendiri menjadi daya tarik Sudut Ngopi yang dirintis pasangan muda Alan Timothy Litelnoni dan Verrenity Tatiana Golova.
KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID —Menjamurnya coffee shop di berbagai sudut Kota Tangerang tidak membuat Alan Timothy Litelnoni gentar untuk memulai usahanya sendiri. Berbekal pengalaman bekerja di industri perhotelan dan beverage, pemuda asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu akhirnya mewujudkan mimpi masa kecilnya melalui Sudut Ngopi, sebuah kafe yang mengusung konsep nyaman untuk bekerja dari kafe atau work from cafe (WFC).
Sudut Ngopi dirintis Alan bersama pasangannya, Verrenity Tatiana Golova. Keduanya memadukan ilmu manajemen, pengalaman di dunia hospitality, serta ketertarikan terhadap industri makanan dan minuman untuk menghadirkan tempat nongkrong yang tidak hanya menawarkan kopi, tetapi juga menjadi ruang produktif bagi mahasiswa, pekerja, hingga komunitas.
Alan menuturkan, ketertarikannya terhadap dunia F&B sudah tumbuh sejak masih duduk di bangku SMA. Saat itu ia membantu sang ayah berjualan minuman boba di NTT sebagai salah satu upaya mengumpulkan biaya untuk melanjutkan pendidikan di perantauan.
“Tempat ini sebenarnya mimpi terbesar saya sejak SMA. Waktu itu saya sudah mulai ngulik dunia F&B dengan jualan boba bersama bapak di NTT untuk biaya kuliah,” ujar Alan saat ditemui di Sudut Ngopi.
Perjalanan Alan kemudian membawanya menempuh pendidikan perhotelan di Universitas Pelita Harapan (UPH) Lippo Karawaci. Selama kuliah, ia mendapat kesempatan menjalani program magang di JW Marriott Surabaya yang menjadi salah satu pengalaman penting dalam membentuk cara pandangnya terhadap pelayanan pelanggan.
Menurut Alan, dunia perhotelan mengajarkannya bahwa keberhasilan sebuah bisnis tidak hanya bergantung pada kepuasan pelanggan, tetapi juga hubungan yang baik antaranggota tim.
Ia mengenal konsep tamu eksternal dan tamu internal, yakni bagaimana sebuah usaha harus mampu memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang sehat bagi rekan kerja agar bisnis dapat berkembang bersama.
Namun perjalanan mewujudkan impian tersebut tidak berlangsung instan. Karena harus membiayai hidup dan pendidikan secara mandiri sebagai seorang perantau, Alan sempat mengambil keputusan cuti kuliah selama dua tahun untuk bekerja.
Kesempatan itu datang ketika ia diterima sebagai junior bartender di Cap Karoso, Sumba, pada akhir 2023 hingga akhir 2024. Selama hampir satu tahun bekerja, Alan mendalami dunia beverage, mulai dari teknik meracik minuman, memahami karakter bahan, hingga menciptakan kombinasi rasa yang tidak dibuat secara sembarangan.

“Di sana saya benar-benar belajar minuman dan kopi. Bukan sekadar mencampur bahan, tapi bagaimana setiap racikan punya komposisi dan karakter rasa,” katanya.
Setelah kembali ke Tangerang dan melanjutkan kuliah hingga semester akhir, Alan mulai mempelajari manajemen bisnis secara lebih mendalam. Pada fase inilah ia bertemu dengan Verrenity yang memiliki visi serupa untuk membangun sebuah usaha di bidang F&B.
Merintis Sudut Ngopi, Mimpi Alan Timothy dan Verrenity Tatiana Hadirkan Coffee Shop Nyaman untuk WFC di Kota Tangerang
Keduanya kemudian berdiskusi untuk menciptakan coffee shop yang berbeda dari kebanyakan kafe di Tangerang. Mereka melihat peluang pada minuman nonkopi dan mocktail kreatif yang memiliki tampilan menarik, estetik, serta tetap dapat dijangkau oleh kalangan muda.
Bersama dukungan keluarga, khususnya orang tua Verrenity, impian tersebut akhirnya diwujudkan melalui Sudut Ngopi.
Berawal dari Kebiasaan Anak Muda “Nyudut”
Nama Sudut Ngopi sendiri memiliki cerita unik. Alan mengatakan ide tersebut lahir dari kebiasaan anak muda yang gemar mencari sudut tempat duduk saat sedang mengobrol maupun menghabiskan waktu bersama pasangan atau sahabat.
“Awalnya kami berpikir anak muda itu hobinya nyudut. Kalau lagi ngopi sambil ngobrol biasanya cari sudut yang nyaman, akhirnya muncul nama Sudut Ngopi,” ujarnya sambil tersenyum.
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan menjadi ruang yang dirancang untuk berbagai kebutuhan. Pengunjung dapat memilih area indoor, outdoor, maupun semi outdoor sesuai suasana yang diinginkan.
Selain menjadi tempat bersantai, Sudut Ngopi juga menyasar mahasiswa dan pekerja yang membutuhkan tempat menyelesaikan tugas maupun pekerjaan dengan fasilitas pendukung yang memadai.
Kafe ini menyediakan ruangan yang cukup luas, meja panjang untuk bekerja bersama, jaringan WiFi gratis, serta colokan listrik yang tersedia di setiap meja sehingga pengunjung dapat bekerja menggunakan laptop dengan lebih nyaman.
Alan menyebut konsep WFC dan work from anywhere menjadi salah satu pasar yang ingin dikembangkan karena semakin banyak masyarakat membutuhkan ruang alternatif selain kantor maupun rumah.
Racikan Sendiri Jadi Identitas Menu
Di tengah persaingan bisnis coffee shop, Alan menegaskan bahwa salah satu pembeda Sudut Ngopi terletak pada proses pengembangan menu yang dilakukan secara mandiri.

Menurutnya, hampir seluruh racikan minuman signature dihasilkan melalui proses riset dan pengembangan atau research and development (R&D), bukan menggunakan resep template yang umum digunakan. Salah satu menu andalan sekaligus best seller adalah Sudut Kopi Latte.
Minuman tersebut dibuat menggunakan racikan sendiri, termasuk proses memasak gula dan menyesuaikan komposisi rasa agar tetap nikmat tanpa mengorbankan harga yang ramah di kantong.
“Kami tidak sekadar mencari bahan murah untuk menekan biaya produksi. Yang kami pikirkan juga bagaimana rasanya tetap enak dan orang bisa menikmati dengan harga yang masih terjangkau,” jelasnya.
Selain kopi, Sudut Ngopi juga menghadirkan berbagai kreasi mocktail dengan tampilan visual yang menarik untuk dinikmati maupun diabadikan di media sosial. Salah satunya adalah Candyland, minuman berlapis yang memadukan bunga rosella dengan Blue Curacao Cloud.
Minuman tersebut menampilkan gradasi warna merah di bagian bawah dan biru muda di bagian atas sehingga menciptakan kesan seperti perpaduan langit dan laut. Candyland dibanderol sekitar Rp30.000.
Secara keseluruhan, harga menu di Sudut Ngopi berada pada kisaran Rp18.000 hingga Rp40.000. Menu makanan dengan harga tertinggi adalah Beef Rice Bowl seharga Rp40.000, sedangkan seluruh pilihan minuman dibanderol tidak lebih dari Rp35.000.
Koleksi Marvel hingga Spot Instagramable
Tidak hanya mengandalkan makanan dan minuman, Sudut Ngopi juga menghadirkan nuansa visual yang menjadi daya tarik bagi pengunjung muda. Sejumlah pajangan koleksi pribadi bertema karakter populer seperti Marvel dan DC dipamerkan di dalam ruangan.

Alan mengatakan koleksi tersebut akan terus dirotasi agar suasana interior selalu terasa berbeda dan memberikan pengalaman baru bagi pelanggan yang datang kembali.
Keberadaan dekorasi tersebut dipadukan dengan sejumlah sudut foto yang dirancang estetik sehingga cocok bagi pengunjung yang gemar membuat konten media sosial.
Dengan pilihan area indoor, outdoor, dan semi outdoor, pengunjung juga memiliki fleksibilitas memilih suasana sesuai kebutuhan, baik untuk rapat santai, mengerjakan tugas, maupun sekadar menikmati waktu bersama teman.
Terbuka untuk Komunitas dan Beragam Event
Sudut Ngopi juga membuka peluang bagi komunitas maupun organisasi yang ingin menggelar kegiatan atau event di lokasi tersebut.
Meski demikian, Alan menegaskan setiap kegiatan tetap harus melalui proses koordinasi dengan lingkungan sekitar sebagai bentuk tanggung jawab terhadap warga yang tinggal di sekitar kafe.
Menurutnya, komunikasi dengan ketua RT dan para tetangga menjadi langkah penting sebelum sebuah acara dilaksanakan agar aktivitas yang berlangsung tidak menimbulkan gangguan maupun merugikan masyarakat sekitar.
“Kami sangat terbuka untuk komunitas yang ingin membuat acara. Bahkan kami mengundang, tetapi tetap harus melihat jenis event-nya dan koordinasi dulu dengan lingkungan,” katanya.
Sudut Ngopi beroperasi setiap hari mulai pukul 12.00 WIB hingga 23.00 WIB dengan batas pemesanan terakhir atau last order pada pukul 22.30 WIB.
Menariknya, Alan mengaku tetap memberikan kelonggaran bagi pengunjung yang masih menyelesaikan pekerjaan atau tugas meski waktu operasional hampir berakhir.
Selama memungkinkan, ia memilih tetap menemani pelanggan agar mereka dapat menyelesaikan aktivitasnya dengan nyaman. Bagi Alan, Sudut Ngopi bukan sekadar tempat menjual kopi dan makanan, melainkan ruang yang lahir dari perjalanan panjang seorang perantau dalam mengejar mimpi sejak SMA hingga akhirnya memiliki usaha sendiri di dunia F&B.
Ia pun tidak ingin berlebihan mempromosikan produknya. Menurutnya, keunikan Sudut Ngopi justru ingin dirasakan langsung oleh setiap pengunjung melalui cita rasa minuman, suasana ruang yang nyaman, serta pengalaman menikmati waktu di sudut kecil yang dirancang penuh cerita tersebut.








