TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Pastor Nicolaus Dibyadarmaja, SJ, mengajak umat Katolik untuk memaknai Natal secara lebih mendalam melalui sikap solidaritas terhadap sesama dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Pesan tersebut disampaikannya saat memimpin Misa Malam Natal 2025 di Gereja HSPMTB Tangerang, Rabu, 24 Desember 2025.
Dalam wawancaranya dengan awak Jurnalis, Pastor Nicolaus menyinggung bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Ia menegaskan bahwa para korban bencana merupakan bagian dari satu keluarga besar umat manusia yang patut mendapat perhatian dan keterlibatan bersama.
“Kalau sekarang saudara-saudara kita yang di Sumatera Utara, Sumatera Barat mengalami dan diterpa bencana besar seperti itu adalah keluarga kita pula. Di situlah keterlibatan kita sebagai satu keluarga umat manusia,” ujar Pastor Nicolaus.
Ia menjelaskan bahwa perayaan Natal tidak hanya berhenti pada seremoni keagamaan, tetapi juga menjadi momentum mengenang kehadiran Allah yang menyatu dengan umat manusia. Keluarga, menurutnya, merupakan ruang utama karya Allah dalam menyelamatkan dunia.
Lebih lanjut, Pastor Nicolaus mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan hidup sebagai wujud tanggung jawab iman. Ia menilai bencana alam yang terjadi menjadi refleksi bersama untuk membangun kesadaran ekologis yang berangkat dari keluarga.
“Dasar masyarakat adalah keluarga. Apa yang kita bangun dari keluarga, di situlah kita membangun masyarakat. Dunia akan diselamatkan oleh masyarakat yang tidak serakah dan tidak hedonis,” katanya.
Menurutnya, pertobatan ekologis bukan sekadar penyesalan, melainkan tindakan nyata dalam mengelola kehidupan dan alam secara bertanggung jawab demi masa depan generasi mendatang.
Menanggapi pesan bagi saudara-saudara yang tertimpa musibah di Sumatera dan Aceh, Pastor Nicolaus mengajak umat untuk tetap setia pada tuntunan Tuhan dan tabah menghadapi penderitaan. Ia juga menegaskan komitmen untuk membantu semampu yang bisa dilakukan.
“Di dalam segala derita, tabahlah. Mari kita bangun dunia yang sudah sedikit rusak untuk menjadi warisan yang baik bagi anak cucu kita kelak,” tuturnya.
Ia menutup pesannya dengan menegaskan bahwa upaya membangun dunia yang lebih baik harus dimulai dari keluarga sebagai fondasi utama kehidupan bermasyarakat dan kemanusiaan.










