KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID —Pemerintah Kota Tangerang terus mendorong implementasi program smart city tidak hanya dalam pelayanan publik berbasis aplikasi, tetapi juga dalam penataan kota, termasuk pembangunan infrastruktur. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Tangerang, Hj. Yeti Rohaeti, AP., M.Si, yang menekankan bahwa konsep smart city tidak hanya terbatas pada teknologi informasi, tetapi juga mencakup penanganan masalah perkotaan seperti banjir.
“Smart city itu bukan hanya bicara aplikasi, tapi bagaimana kita menata kota. Salah satunya adalah bagaimana kita menangani banjir,” ujar Yeti dalam keterangannya baru-baru ini. Ia menjelaskan bahwa penanganan banjir melalui integrasi saluran air merupakan bagian penting dari konsep smart city.
Yeti menambahkan, implementasi smart city harus diterapkan di berbagai sektor, tidak hanya di sektor IT dan pelayanan publik, tetapi juga di sektor infrastruktur.
“Di sektor infrastruktur, pada 2025 kami akan berkoordinasi dengan kota-kota sekitar dan Kementerian terkait. Mengingat Kota Tangerang berbatasan dengan wilayah lain, penanganan banjir tidak bisa dilakukan sendiri,” jelasnya.
Ia mencontohkan kasus banjir di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) yang baru-baru ini terjadi melibatkan Kali Prancis, di mana sebagian alirannya berada di Kota Tangerang dan sebagian lagi di Kabupaten Tangerang. “Penanganannya perlu melibatkan pemerintah pusat untuk memediasi koordinasi antarwilayah,” ujar Yeti.
Dengan langkah ini, Pemerintah Kota Tangerang berkomitmen untuk menciptakan kota yang lebih cerdas dan berkelanjutan, tidak hanya melalui teknologi, tetapi juga melalui pembangunan infrastruktur yang terintegrasi dan berwawasan lingkungan










