TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Pekan Olahraga Pelajar (PopKot) Kota Tangerang 2025 resmi bergulir sebagai program perdana pemerintah daerah. Meski diikuti 1.581 atlet dari 23 cabang olahraga, penyelenggaraan tahun ini digelar secara sederhana.
Panitia mencatat hanya anggaran medali dan biaya wasit–juri yang diambil dari APBD Kota Tangerang 2025. Sementara peralatan teknis seperti kursi hingga sound system dipenuhi lewat pinjaman dari kelurahan dan dukungan kecamatan.
Kadispora Kota Tangerang, Kaonang, menjelaskan bahwa ketersediaan cabang olahraga di setiap kecamatan berbeda-beda. Hal ini disebabkan aturan peserta yang wajib sesuai domisili sekolah.
“Ada 23 cabor, tetapi tidak semua kecamatan punya seluruhnya karena peserta berdasarkan domisili sekolah. Ada kecamatan yang ikut 20 cabor, ada 14 cabor, tergantung kekuatan masing-masing wilayah,” ujar Kaonang usai Pembukaan PopKot, di Stadion Benteng, pada Senin, 8 Desember 2025.
Pelaksanaan PopKot juga melibatkan 13 venue utama yang tersebar di berbagai wilayah. Beberapa venue digabung untuk menghemat fasilitas dan memudahkan proses teknis.
“Venue yang digunakan 13 lokasi, tetapi beberapa digabung seperti tinju dan tenis meja di Koang. Atletik di Stadion Benteng Reborn dan sepak bola digelar di Lapangan Nambo,” ungkapnya.
Upaya efisiensi juga terlihat dari minimnya seragam dan perlengkapan kontingen. Kaonang menegaskan bahwa tahun ini tidak ada kaus kontingen maupun baju pertandingan yang difasilitasi panitia.
“Tidak ada baju kontingen maupun baju pertandingan karena seluruh kegiatan sifatnya efisiensi. Kami mengandalkan dukungan kecamatan dan kelurahan untuk perlengkapan dasar,” jelasnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Tangerang memastikan layanan kesehatan para atlet tetap menjadi prioritas. Kemitraan dilakukan dengan BPJS Ketenagakerjaan dan sejumlah rumah sakit melalui program CSR.
“Kami sudah cover keselamatan dan penanganan cedera atlet melalui BPJS Ketenagakerjaan. Rumah Sakit Melati memberikan support luar biasa untuk penanganan medis selama PopKot berlangsung,” tuturnya.
Wali Kota Tangerang, Sachrudin, menilai kesederhanaan PopKot tahun ini tidak mengurangi esensi pembinaan atlet. Ia menyebut kolaborasi seluruh kecamatan menjadi kunci terlaksananya kegiatan.
“Untuk PopKot ini kita dorong partisipasi semua lapisan, bukan hanya APBD tetapi juga dukungan camat dan berbagai pihak. Semua bergerak bersama untuk penyelenggaraan yang tetap maksimal,” tegas Sachrudin.
Meskipun digelar dengan penuh efisiensi, PopKot 2025 diharapkan tetap mampu melahirkan atlet muda berprestasi. Pemerintah optimistis kesederhanaan tidak akan mengurangi semangat para peserta untuk memberikan hasil terbaik.









