JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID – Sutradara Dyan Sunu Prasetyo mengungkapkan ada alasan khusus yang membuat dirinya tertarik menggarap film Anak-Anak Bambu. Selain ingin menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak Indonesia, ia juga terpikat oleh filosofi bambu yang menjadi simbol kekuatan, kebersamaan, dan ketangguhan.
“Film ini ingin menunjukkan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang, harapan, dan masa depan. Filosofi bambu menjadi simbol bagaimana kita saling menopang dan tetap kuat menghadapi ujian hidup,” ujar Dyan.
Pesan tersebut diperkuat oleh para pemain yang ikut terlibat dalam produksi. Ayushita, pemeran Bunda Neta, mengaku film ini mengajarkan bahwa setiap orang memiliki proses untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Sementara Irgi Fahrezi menilai kekuatan utama film ini terletak pada pesan moral yang disampaikan kepada masyarakat.
“Kami sepakat membuat karya yang berkualitas dan memiliki pesan. Film ini bukan hanya tentang anak-anak panti, tetapi juga tentang pentingnya lingkungan yang mampu menjadi sistem pendukung bagi tumbuh kembang anak,” kata Irgi.
Pemeran Gebang, Muhammad Adhiyat, mengaku mendapatkan pelajaran berharga tentang arti keluarga selama proses syuting.
“Keluarga tidak selalu harus memiliki hubungan darah. Orang-orang di sekitar yang membuat kita nyaman juga bisa menjadi keluarga,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Nadhira, yang juga membawakan lagu tema film. Menurutnya, film ini mengajarkan pentingnya persahabatan, kebersamaan, dan semangat untuk selalu bergembira.
Dengan kisah yang hangat dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, Anak-Anak Bambu diharapkan menjadi film keluarga yang mampu menginspirasi masyarakat agar semakin peduli terhadap tumbuh kembang anak-anak Indonesia. (san/*) #foto dok. mas










