Ribuan Umat Hadiri Misa Rabu Abu 2026 di HSPMTB Tangerang

TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Ribuan umat memadati Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB) dalam perayaan Misa Rabu Abu pada Rabu, 18 Februari 2026. Perayaan ini menjadi awal Masa Prapaskah bagi umat Katolik di Paroki Kota Tangerang dan sekitarnya.

Sekretaris Gereja HSPMTB, Rina Margaretha, mengatakan misa dibagi dalam lima sesi untuk mengakomodasi tingginya antusiasme umat. Pembagian jadwal dilakukan agar perayaan tetap tertib dan nyaman.

Bacaan Lainnya

“Misa Rabu Abu kami laksanakan dalam lima sesi, yakni pukul 05.45 WIB, 10.00 WIB, 12.00 WIB, 17.00 WIB, dan 20.00 WIB, agar seluruh umat bisa terakomodasi. Kami juga mengimbau umat hadir sesuai jadwal supaya perayaan berjalan tertib dan lancar,” ujar Rina.

Ia menjelaskan, jumlah kehadiran umat dalam setiap sesi cukup tinggi. Berdasarkan data sementara, ribuan umat hadir sejak misa pertama hingga sore hari.

“Untuk update sementara, Misa ke-1 pukul 05.45 WIB dihadiri 1.053 umat, Misa ke-2 pukul 10.00 WIB sebanyak 2.354 umat, Misa ke-3 pukul 12.00 WIB sebanyak 1.319 umat, dan Misa ke-4 pukul 17.00 WIB mencapai 2.744 umat,” jelasnya.

Rina menegaskan, tata cara penerimaan abu tetap mengikuti ketentuan liturgi Gereja Katolik. Abu diberikan oleh imam atau pelayan yang ditunjuk sebagai simbol pertobatan.

“Penerimaan abu mengikuti tata liturgi Gereja Katolik, dengan dua formula yang disampaikan saat pemberian abu, yakni ‘Bertobatlah dan percayalah kepada Injil’ atau ‘Ingatlah, engkau adalah debu dan akan kembali menjadi debu,’” katanya.

Menurutnya, secara umum tidak ada perubahan dalam tata perayaan dibanding tahun sebelumnya. Penyesuaian lebih difokuskan pada pengaturan teknis arus umat.

“Secara tata perayaan tidak ada perubahan, karena tetap mengikuti aturan liturgi yang berlaku. Penyesuaian lebih pada pengaturan jadwal dan arus umat agar misa berlangsung khusyuk dan nyaman,” ungkap Rina.

Ia menambahkan, Rabu Abu menjadi momentum penting untuk memasuki Masa Prapaskah dengan semangat pertobatan. Simbol abu di kepala menjadi pengingat akan kerendahan hati manusia di hadapan Tuhan.

“Rabu Abu menandai awal Masa Prapaskah dan menjadi undangan untuk masuk dalam pertobatan yang tulus. Abu yang ditaburkan di kepala mengingatkan kita akan kerendahan diri dan ketergantungan kepada Tuhan,” tuturnya.

Rina juga menyampaikan bahwa makna tersebut selaras dengan tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2026 dari Keuskupan Agung Jakarta. Tema tahun ini menekankan pertobatan yang berdampak pada kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.

“Tahun ini kami mengaitkannya dengan tema APP 2026, ‘Pertobatan untuk Merawat Bumi, Rumah Kita Bersama.’ Artinya, pertobatan tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga mengubah cara hidup agar lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sesama,” pungkasnya.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.