TANGERANG SELATAN, LENSABANTEN. CO. ID–Sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terus meluas pada Minggu (6/9/2026). Dampaknya tidak lagi hanya dirasakan di sekitar Selat Sunda, tetapi juga mulai mencapai wilayah Tangerang, Tangerang Selatan, hingga Kabupaten Bogor.
Gunung Anak Krakatau kembali aktif meletus sejak 2 Juli 2026, dengan aktivitas yang meningkat tajam pada Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat erupsi menerus dimulai pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, disertai suara dentuman dan gemuruh, dengan status aktivitas berada pada Level III atau Siaga.
Badan Geologi juga mengimbau agar masyarakat, wisatawan, maupun pendaki tidak mendekat atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi guna menghindari bahaya lontaran material pijar dan gas berbahaya di sekitar kawah aktif.
Dampak paling awal dirasakan sektor penerbangan. Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, ditutup sementara pada Minggu dini hari menyusul terdeteksinya indikasi sebaran abu vulkanik, berdasarkan Notice to Airmen Nomor A3341/26.
Operasional bandara sempat dihentikan mulai pukul 01.30 WIB, kemudian diperpanjang hingga pukul 09.30 WIB demi memastikan keselamatan penerbangan.
Berdasarkan data pemantauan hingga Sabtu malam, tercatat 33 penerbangan terdampak, dengan rincian 16 penerbangan internasional dibatalkan, tujuh mengalami penundaan, dan lima lainnya dijadwalkan ulang.
Sebaran abu tidak berhenti di area bandara. Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 serta informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, BMKG mendeteksi dua klaster sebaran abu vulkanik pada Minggu pagi.
Klaster pertama bergerak dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur laut-tenggara, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, sementara klaster kedua bergerak dari permukaan hingga 50.000 kaki ke arah barat daya-barat laut, meliputi Banten, Lampung, Bengkulu, hingga Selat Sunda bagian selatan.
Di wilayah Tangerang Selatan, warga di kawasan Pondok Aren, Pamulang, dan BSD melaporkan munculnya lapisan debu halus yang menempel di kendaraan maupun permukaan benda di sekitar rumah pada Minggu pagi. Salah seorang warga Pamulang bahkan mendapati kendaraannya kembali berdebu tebal tak lama setelah diparkir malam sebelumnya.
Laporan serupa datang dari Kabupaten Bogor. Di kawasan Perumahan Kalisuren Paradise, Desa Tajurhalang, seorang warga mengaku menyadari adanya abu vulkanik sekitar pukul 00.30 WIB setelah mendapati kendaraan yang baru dicuci kembali kotor oleh debu.
Warga di kawasan Cibinong juga melaporkan halaman rumah mulai tertutup abu tipis, sementara sejumlah warga Depok turut membagikan kondisi serupa di lingkungan mereka.
Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik berlebihan. Badan Geologi dan PVMBG menegaskan bahwa erupsi gunung api tidak secara otomatis memicu tsunami, dan mengimbau masyarakat untuk tidak mempercayai isu bahwa setiap erupsi Anak Krakatau pasti menyebabkan tsunami.
Tsunami vulkanik, menurut penjelasan tersebut, hanya dapat terjadi melalui mekanisme tertentu seperti longsoran material gunung ke laut atau perubahan volume tubuh gunung yang signifikan.
Warga di wilayah terdampak, termasuk Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang, diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan serta membersihkan debu yang menempel di rumah maupun kendaraan.
Masyarakat juga diminta terus memantau informasi resmi dari BMKG, PVMBG, VAAC, dan otoritas penerbangan, terutama bagi yang memiliki rencana perjalanan udara di sekitar wilayah terdampak.








