TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Kuil Durgama, Karawaci, Kota Tangerang, menjadi tempat pertemuan para seniman lintas negara dan disiplin seni dalam kegiatan bertajuk Jamming Session. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Expedition Camp 2025 yang digelar oleh Semanggi Center dan Umah Budaya Kaujon.
Kegiatan ini mempertemukan para performer dengan latar belakang berbeda, mulai dari musik, tari, hingga seni visual. Konsepnya menggabungkan berbagai bentuk ekspresi seni dalam satu ruang interaksi terbuka.
“Jamming session itu kayak band-band-an, tapi lintas disiplin. Misalnya gitaris dari satu grup bergabung dengan drummer dari grup lain, tapi di sini tidak hanya musik, ada penari, perupa, dan performer lain,” ujar Ferial Afiff, selaku Kurator kegiatan, pada Kamis, 16 Oktober 2025.
Ferial menjelaskan bahwa setiap peserta diajak untuk merespons ruang, waktu, dan interaksi sesama seniman melalui aksi performatif spontan. Menurutnya, kegiatan ini menjadi ajang eksplorasi dan pembelajaran bersama antarperformer.
Kuil Durgama dipilih menjadi lokasi kegiatan karena memiliki nilai sejarah dan keunikan tersendiri. Ferial menyebut kuil tersebut jarang ditemukan di Pulau Jawa dan memiliki daya tarik ruang yang kuat untuk diolah secara artistik.
“Kuil Durgama itu menarik banget secara historis. Kami ingin para seniman merasakan langsung ruang dan atmosfernya, lalu meresponsnya lewat karya performatif,” jelasnya.
Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan sejumlah tokoh seni seperti Putri, Rau-Rau, dan tim Semanggi Amazing Team. Adapun implementasi lapangan dikelola penuh oleh Semanggi Center.
“Implementasi di lapangan dipegang oleh Semanggi Center. Untuk mengundang seniman, kami berdiskusi bersama melalui jaringan seni yang tersebar di Asia,” kata Ferial.
Program Expedition Camp berlangsung dari 14 hingga 22 Oktober 2025 di Kota Tangerang. Sebanyak 14 partisipan dari berbagai negara ikut ambil bagian, di antaranya Indonesia, Jepang, Taiwan, Vietnam, dan India.
“Yang dari luar negeri kebanyakan satu orang per negara. Tapi yang penting justru para performer lokal dari Provinsi Banten,” tutur Ferial.
Ia menambahkan, seniman asal Banten memiliki peran penting dalam kegiatan ini karena mewakili identitas lokal yang kuat. Harapannya, kegiatan ini dapat memunculkan lebih banyak performer berbakat dari wilayah Banten.
Selain jamming session, inti dari Expedition Camp adalah sharing session yang menjadi wadah berbagi pengetahuan antar seniman. Setiap peserta mendapat waktu satu jam untuk berbagi pengalaman dan keterampilan kepada partisipan lain.
“Total ada 14 sesi selama empat hari tiga malam. Harapannya, semua peserta bisa saling belajar dan memproduksi pengetahuan baru tentang seni pertunjukan di Asia,” ungkapnya.
Ke depan, panitia berencana mendokumentasikan hasil kegiatan ini dalam bentuk buku. Tujuannya agar pengetahuan yang dihasilkan dapat disebarluaskan dan menjadi referensi seni pertunjukan di Asia.
Melalui kegiatan ini, para seniman diharapkan memperkaya wawasan lintas budaya dan memperkuat jejaring performer Asia. Kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi seniman muda di Indonesia, khususnya di Provinsi Banten.
Ekspresi Nini dan Lan dari Taipei: “Tubuh dan Bunyi Jadi Bahasa Universal”
Salah satu peserta asal Taiwan, Nini, membagikan pengalamannya saat tampil di Kuil Durgama. Ia dikenal sebagai performer tari dengan gaya ekspresif yang terinspirasi dari tarian Jepang, Butoh.
“Saat saya berada di Kuil Xi’an, saya merasakan seluruh tubuh saya ingin bergerak. Semua orang di kuil sedang melakukan pertunjukan, dan saya melihat orang-orang bekerja di luar. Saat itu saya berpikir, oh, saya juga ingin tampil bersama mereka,” ujar Nini.
Ia menjelaskan bahwa setiap gerakan yang ia lakukan muncul secara spontan tanpa rencana. “Saat menari, saya tidak pernah membuat rencana apa pun. Semuanya terjadi di momen itu saja. Setiap gerakan seperti kehidupan dan kematian yang terus lahir dan mati berulang kali,” ujarnya.
Menurut Nini, dalam setiap penampilannya ia ingin membangun hubungan yang lebih dekat dengan penonton. “Kadang saya merasa seperti roh atau hewan. Itu bisa membuat orang merasa nyaman, kadang juga tidak nyaman. Tapi saya ingin menciptakan hubungan antara penampil dan penonton, agar bisa menyatu dalam perasaan yang sama,” tuturnya.
Nini mengatakan dirinya mulai mengenal Butoh sejak kuliah. “Saya berusia 26 tahun. Saat kuliah, sekitar umur 21 atau 22, saya mulai mengenal Butoh, tarian dari Jepang. Jadi saya sudah berlatih sekitar lima tahun,” katanya.
Baginya, Butoh adalah cara untuk merasakan kehidupan secara utuh. “Setiap hari saya bisa lebih merasakan keterhubungan dengan segala hal di sekitar saya. Saat berjalan, tidur, atau melakukan apa pun itu semua adalah Butoh,” pungkasnya.
Sementara itu, seniman asal Taipei lainnya, Lan, menampilkan permainan alat musik tradisional asal Australia bernama Didgeridoo atau Yidaki. Alat musik tiup ini biasanya digunakan dalam upacara adat suku Aborigin.
“Didgeridoo atau Yidaki berasal dari masyarakat Aborigin di Australia. Awalnya digunakan untuk upacara, tapi orang Eropa kemudian menyebutnya Didgeridoo karena mengikuti bunyinya,” kata Lan.
Lan sudah mempelajari alat tersebut sejak tahun 2018. “Sudah sekitar delapan tahun saya memainkan Didgeridoo,” ujarnya.
Menurutnya, proses belajar alat musik ini tidak hanya soal teknik, tetapi juga tentang latihan spiritual. “Kadang saya berhenti berlatih karena ingin fokus pada diri sendiri, pada jiwa dan kehidupan saya. Itu juga bagian dari latihan. Saat menghadapi tantangan, saya beristirahat, merenung, lalu kembali lagi dengan semangat baru,” tuturnya.
Lan juga menjelaskan alasan mengapa ia tertarik mempelajari alat musik dari budaya lain. “Sekitar delapan tahun lalu, pemerintah kami menebang banyak pohon untuk proyek pembangunan. Seorang teman membawa alat musik ini untuk menginspirasi kami. Saat saya mendengarnya pertama kali, saya merasa seperti mendengar suara perang sangat kuat. Dari situlah saya mulai belajar,” katanya.
Selain Didgeridoo, Lan juga memainkan alat musik Hasapi dari Indonesia. “Saya membeli Hasapi di pasar barang bekas di Taiwan. Setelah saya cari tahu, ternyata itu alat musik dari Indonesia. Jadi saya bawa ke sini dan memainkannya di acara ini,” ujarnya.
Lan menilai kegiatan seperti Jamming Session ini penting untuk mempertemukan seniman lintas budaya. “Kita semua bisa belajar saling memahami lewat bunyi dan gerakan. Musik dan tubuh adalah bahasa universal,” pungkasnya.
Melalui partisipasi seniman seperti Nini dan Lan, kegiatan Jamming Session di Kuil Durgama tidak hanya menjadi ruang kolaborasi, tetapi juga jembatan pertukaran makna antara tubuh, bunyi, dan budaya.










