Tangis Haru Ibu dan Anak di Serang, Caderra Pulang dari Mimpi Buruk di Kamboja

Tangis Haru Ibu dan Anak di Serang, Caderra Pulang dari Mimpi Buruk di Kamboja

KOTA SERANG, LENSABANTEN.CO.ID —  Tangis pecah dalam pelukan hangat antara Repelitawati dan putranya, Caderra Pasqy Naiga Prasasty. Momen itu menjadi akhir dari penantian panjang penuh kecemasan yang selama berbulan-bulan menghantui seorang ibu tunggal di Kota Serang.

Rasa takut yang dulu menyelimuti kini berganti kelegaan. Caderra akhirnya kembali, selamat dari jerat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang nyaris merenggut masa depannya di Kamboja.

Bacaan Lainnya

Di balik kepulangannya, tersimpan kisah getir tentang perjuangan hidup, keberanian melarikan diri, dan doa seorang ibu yang tak pernah putus. Tak hanya itu, ada pula uluran tangan dari Pemerintah Kota Serang yang menjadi jalan pulangnya.

Semua berawal dari keinginan sederhana Caderra untuk mengubah nasib. Ia merantau dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang layak. Tawaran kerja di sebuah rumah makan di Vietnam terdengar menjanjikan, terlebih seluruh biaya perjalanan ditanggung.

Namun, perjalanan itu justru membawanya ke arah yang tak pernah ia bayangkan. Dari Batam, ia diberangkatkan secara tidak biasa, melewati jalur khusus menuju Malaysia, lalu diterbangkan ke Ho Chi Minh.

Alih-alih bekerja di Vietnam, ia bersama puluhan WNI lainnya dipindahkan menggunakan bus selama berjam-jam hingga akhirnya tiba di Kamboja.

BACA JUGA  : FOTO : Imbas Perang AS-Iran, Harga Plastik Naik Drastis

“Pas kita pada bangun tidur udah nyampe di Kamboja. Udah dikurung di perusahaan scam,” ungkap Caderra lirih.

Di sanalah kehidupan berubah menjadi mimpi buruk. Selama delapan bulan, ia ditahan di wilayah Prey Veng dan dipaksa bekerja sebagai penipu daring yang menargetkan korban dari sejumlah negara Asia Tenggara.

Janji gaji besar tak pernah terwujud. Ia hanya menerima bayaran di awal, sementara hari-hari berikutnya diisi tekanan dan kekerasan.

“Selebihnya disiksa. Karena dia (saya) dijual juga ke perusahaan lain senilai 3.500 Dolar AS,” kenangnya dengan tatapan nanar.

Setiap kali target tidak tercapai, ancaman hingga kekerasan fisik menjadi konsekuensi yang harus dihadapi.

Namun, di tengah ketakutan, tekad untuk bertahan hidup tumbuh. Bersama 22 WNI lainnya, Caderra memutuskan untuk melarikan diri. Mereka menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki menuju Phnom Penh.

“Keluar dari perusahaan di Prey Veng itu ke KBRI 125 kilo kita jalan semua. 23 jam jalan. Full. Dari malam ketemu malam lagi,” cerita Caderra.

BACA JUGA  : Soal Banjir di Parung Jaya, Metland Dituding Tak Paham Lapangan

Rasa takut justru menjadi kekuatan mereka untuk terus melangkah.

“Soalnya kalau nggak dikabur, kita disetrum lagi.”

Perjalanan panjang itu akhirnya membawa mereka ke Kedutaan Besar Republik Indonesia. Namun perjuangan belum selesai. Status overstay membuat kepulangan Caderra terhambat biaya yang tak sedikit.

Di tanah air, Repelitawati hanya bisa menangis. Ia tak memiliki cukup uang untuk memulangkan anaknya.

Dalam kondisi putus asa, ia mengadu ke Pemerintah Kota Serang. Tangisnya mengetuk kepedulian Wali Kota Serang, Budi Rustandi.

Tanpa menunggu proses panjang, bantuan langsung diberikan.

“Kita nggak ada biaya dari negara, langsung alhamdulillah saya pakai anggaran pribadi segera diurus. Saya terharu karena bahagia anak ini sudah kembali ke Kota Serang,” ucap Budi Rustandi penuh empati.

BACA JUGA  : Andra Soni Minta ASN Banten Berubah: Stop Pemborosan Energi

Bantuan juga datang dari pihak KBRI yang membebaskan denda overstay bernilai besar. Kabar itu disambut dengan rasa syukur mendalam oleh sang ibu.

“Alhamdulillahnya atas bantuan Pak Walikota, bantuan Pak Wakil Walikota, Bapak Kabag Kesra, dan semua jajarannya, aku ngucapin banyak terima kasih. Kalau bukan bapak kita, siapa lagi yang memperhatikan anak-anak kami,” tuturnya terbata-bata.

Kisah ini menjadi cermin keras tentang realitas yang dihadapi banyak pencari kerja. Harapan untuk hidup lebih baik bisa berubah menjadi jebakan berbahaya.

Wali Kota Serang menilai peristiwa ini sebagai pengingat penting bagi pemerintah untuk membuka lebih banyak peluang kerja di dalam negeri, agar tidak ada lagi warga yang harus mempertaruhkan nyawa di negeri orang.

Kini, luka perlahan sembuh. Pemerintah Kota Serang memastikan Caderra tidak berjalan sendiri dalam memulai kembali hidupnya.

“Ya kita dari Pemerintah Kota Serang memfasilitasi dia bisa bekerja sambil menunggu yang ada pembangunan di Serang,” ujar Staf Ahli Wali Kota, Triningsih.

Pelukan ibu dan anak itu bukan sekadar pertemuan, tetapi awal baru—sebuah harapan yang tumbuh setelah melewati gelapnya perjalanan panjang.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.