KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, menyampaikan bahwa target nasional pertumbuhan barang dan jasa berada pada kisaran 1,5 hingga 3,5 persen, Indonesia berada di angka 1,7 persen.
Menurutnya, angka tersebut merupakan target yang paling ideal untuk mendorong stabilitas ekonomi di tengah tantangan global yang masih berlangsung sampai pada awal tahun ini.
“Target kita adalah target nasional, karena range inflasinya dari efek kenaikan harga barang dan jasanya ya 1,5 sampai dengan 3,5, itu yang paling ideal, Indonesia ada di 1,7 persen,” ujar Mendagri kepada awak media di Pasar Induk, Kota Tangerang, Jumat 3 Januari 2025.
“1,5 itu artinya menyenangkan konsumen, harganya murah dan terjangkau, barangnya ada, jadinya menyenangkan produsen juga, karena harganya bisa untuk menutupi harga operasional dan masih ada untung. Tapi kalau di bawah 1,5 persen masyarakat konsumen senang, harga murah, barang ada, tapi petani, nelayan, pabrik, mereka akn sulit karena harganya terlalu murah. Ga bisa nutupin cost operasional. Kalau di atas 3,5 persen pasti petani, nelayan, pabrik senang, tapi masyarakatnya yang sulit. Nah kita berada di angka 1,7 itu adalah suatu angka yang terbaik,” tambahnya.
Selain itu, Tito juga menjelaskan ada tiga macam inflasi dari daya beli masyarakat juga pengelolaan anggaran yang efisien serta inovasi
“Inflasi ada tiga macam, pertama namanya inflasi core, inti selain makanan minuman. Kemudian yang kedua inflasi bergejolak itu naik turun, itu makanan minuman tembakau, yang ketiga harga yang diatur admini surprised (cek) seperti biaya transportasi, pesawat, harga minyak, listrik, air minum, itu semua angkutan kota itu lagi diatur oleh pemerintah,” jelasnya.
Ia mengatakan bahwa pihaknya telah meninjau daya beli masyarakat berdasarkan data inflasi core, yakni makanan, minuman, dan barang kebutuhan pribadi.
“Nah kalau ingin melihat daya beli, menurut saya kita harus melihat inflasi core, inflasi inti luar, makanan dan minuman. Kalau makanan minuman baik orang mampu dan nggak mampu harus beli makanan minuman kalau ga, ya kelaparan. Tapi kalau yang bukan makanan minuman itu seperti yang saya sampaikan, perawatan pribadi, beli emas, ke salon, pakaian, alas kaki, kemudian makanan minuman restoran, itu adalah menggambarkan daya beli. Faktanya terjadi inflasi kenaikan meskipun tidak terlalu tinggi,” katanya.
Foto : Ilham Herda Fauzi/LENSABANTEN








