KOTA BANJARBARU, LENSA BANTEN.CO.ID – Keluarga Juwita, jurnalis yang menjadi korban pembunuhan di Banjarbaru, menduga adanya tindak pemerkosaan sebelum kematiannya. Dugaan ini muncul berdasarkan temuan cairan putih yang diduga sperma serta luka lebam di area kemaluan korban.
Kuasa hukum keluarga korban, Muhamad Pazri, meminta penyidik Detasemen Polisi Militer Pangkalan TNI Angkatan Laut (Denpomal) Banjarmasin untuk mendalami temuan tersebut.
“Yang menjadi sorotan utama adalah temuan cairan putih (sperma) di rahim korban dengan volume cukup banyak, serta adanya luka-luka. Hal ini harus diselidiki lebih lanjut,” ujar Pazri, pada Rabu, 2 April 2025.
Kronologi Penemuan Jasad
Juwita ditemukan tewas pada Sabtu, 23 Maret 2025 di kawasan Gunung Kupang, Kelurahan Cempaka, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru. Jasadnya ditemukan tergeletak di tepi jalan bersama sepeda motornya, sehingga awalnya diduga sebagai korban kecelakaan.
Namun, hasil pemeriksaan mengungkap kejanggalan, di antaranya tidak adanya tanda-tanda kecelakaan pada tubuh korban serta hilangnya alat komunikasi miliknya. Penyelidikan lebih lanjut pun mengarah pada dugaan pembunuhan.
Terjadi Kekerasan Seksual pada Korban
Tak lama setelah penyelidikan berlangsung, kekasih korban yang merupakan anggota TNI AL dengan inisial J diduga sebagai pelaku utama. Kuasa hukum keluarga menyebut bahwa J juga telah memperkosa korban sebanyak dua kali, yakni pada 25-30 Desember 2024 serta pada 22 Maret 2025, hari saat jasad korban ditemukan.
“Berdasarkan alat bukti, kami menyimpulkan bahwa korban mengalami kekerasan seksual. Ini adalah pemerkosaan,” tegas Muhamad Pazri.
Komandan Polisi Militer Lanal Balikpapan, Mayor Laut (PM) Ronald L Ganap, sebelumnya telah mengonfirmasi keterlibatan oknum TNI AL dalam kasus ini.
Di lokasi kejadian, polisi menemukan laptop korban yang berisi percakapan antara korban dan kekasihnya. Dalam chat tersebut, korban diminta datang menemuinya, dengan sang kekasih memberikan petunjuk arah. Setelah pertemuan itu, korban diduga diserang dan dibunuh.
“Benar, pembunuhan dilakukan oleh oknum TNI AL berpangkat I berinisial J,” kata Ronald L Ganap.









