TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID– Perayaan Waisak 2570 BE yang digelar di Auditorium Vipassi, Universitas Buddhi Dharma (UBD), Kota Tangerang, pada Jumat, 5 Juni 2026 malam, menjadi penutup rangkaian Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026.
Kegiatan tersebut menghadirkan puluhan Bhikkhu Thudong yang sebelumnya menempuh perjalanan spiritual dari Bali menuju Candi Borobudur.
Acara berlangsung khidmat dan dihadiri ratusan umat Buddha serta masyarakat umum. Selain puja bakti, kegiatan juga diisi dengan sanghadana sebagai bentuk penghormatan kepada para Bhikkhu yang telah menyelesaikan perjalanan panjang mereka.
Penutup Rangkaian Perjalanan Damai
Ketua Umum Perkumpulan Boen Tek Bio, Ruby Santamoko, mengatakan kegiatan di Kota Tangerang menjadi agenda terakhir sebelum para Bhikkhu kembali ke negara asal masing-masing. Momentum tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk merayakan Waisak bersama umat Buddha di Tangerang.
“Kegiatan hari ini adalah rangkaian dari Panitia Nasional Indonesia Walk for Peace 2026. Karena para Bhikkhu akan kembali besok pagi, kami mengadakan acara terakhir sekaligus perpisahan dari seluruh rangkaian kegiatan ini,” ujar Ruby kepada Lensa Banten.
Menurutnya, seluruh peserta Thudong Bali–Borobudur hadir dalam kegiatan tersebut. Sebanyak 55 Bhikkhu kembali berkumpul setelah menyelesaikan perjalanan yang berakhir di Borobudur.
“Ada 55 Bhikkhu dan seluruh peserta Thudong Bali-Borobudur hadir semua malam ini,” katanya.
Kesempatan Melihat Langsung Bhikkhu Thudong
Rektor UBD, Limajatini, menyebut kehadiran para Bhikkhu memberikan pengalaman berbeda bagi umat Buddha di Tangerang. Selama ini masyarakat umumnya hanya menyaksikan perjalanan Thudong melalui media sosial atau tayangan video.
Para Bhikkhu yang hadir berasal dari berbagai negara, seperti Thailand dan Myanmar. Mereka berjalan kaki dari Bali menuju Borobudur sebagai bagian dari misi perdamaian dan penyebaran nilai-nilai kebajikan.
“Biasanya masyarakat hanya melihat melalui video. Sekarang mereka bisa menyaksikan langsung bagaimana para Bhikkhu menjalani perjalanan panjang untuk membawa pesan perdamaian,” ungkap Limajatini.
Ia menjelaskan pihak kampus sengaja mengundang para Bhikkhu agar masyarakat dapat bertemu langsung dan memahami makna perjalanan spiritual tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi sarana memperkuat persaudaraan dan toleransi.
“Kami mengundang mereka ke sini supaya umat di Tangerang bisa bertemu langsung dan merasakan semangat yang mereka bawa selama perjalanan,” jelasnya.
Kota Tangerang Dipilih untuk Penutupan Acara
Anggota DPRD Kota Tangerang Fraksi PSI, Christian Lois, mengatakan kegiatan di Universitas Buddhi Dharma merupakan closing ceremony Indonesia Walk for Peace 2026. Perjalanan tersebut diikuti puluhan Bhikkhu dari Thailand, Laos, Kamboja, Malaysia, dan negara lainnya.
Ia menjelaskan para peserta menempuh perjalanan melalui Bali, Jawa Timur, hingga Jawa Tengah sebelum mencapai tujuan akhir di Candi Borobudur. Setelah seluruh agenda selesai, mereka dijadwalkan kembali ke negara masing-masing melalui Bandara Soekarno-Hatta.
“Selain membawa misi perdamaian dunia, mereka juga menyampaikan pesan toleransi dan cinta kasih kepada masyarakat Indonesia maupun dunia,” ujar Christian Lois.
Christian menilai Kota Tangerang menjadi lokasi yang tepat untuk menutup rangkaian kegiatan tersebut. Selain memiliki akses transportasi yang memadai, kota ini juga dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi keberagaman.
“Kota Tangerang memiliki bandara internasional dan dikenal sebagai kota toleransi yang menjadi rumah bersama bagi berbagai kelompok masyarakat,” katanya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada Universitas Buddhi Dharma yang dinilai mampu memfasilitasi kegiatan dengan baik. Menurutnya, Auditorium Vipassi menjadi lokasi yang representatif untuk menyambut para Bhikkhu.
“Universitas Buddhi Dharma sangat siap dan mampu menyelenggarakan acara ini dengan baik,” imbuhnya.
Senada dengan Christian, Ruby Santamoko menilai Kota Tangerang layak menjadi lokasi persinggahan karena memiliki komunitas umat Buddha yang cukup besar. Kedekatan dengan Bandara Soekarno-Hatta juga menjadi salah satu pertimbangan.
“Mungkin salah satu alasannya karena umat Buddha di Tangerang cukup besar. Selain itu, lokasinya juga dekat dengan bandara sehingga memudahkan perjalanan para Bhikkhu,” ungkap Ruby.
Dukungan Masyarakat Sangat Besar
Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal perjalanan hingga pelaksanaan acara penutupan. Dukungan tidak hanya datang dari umat Buddha, tetapi juga berbagai relawan lintas agama yang turut membantu selama kegiatan berlangsung.
Christian yang mengikuti rangkaian kegiatan sejak awal mengatakan sambutan masyarakat di berbagai daerah sangat positif. Hal itu terlihat dari tingginya tingkat partisipasi masyarakat pada malam penutupan.
“Antusias masyarakat sangat luar biasa. Aula yang digunakan malam ini hampir penuh dan dukungan juga datang dari relawan lintas agama,” tuturnya.
Harapan untuk Tahun Mendatang
Ruby berharap Indonesia Walk for Peace dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak wilayah. Ia bahkan berharap perjalanan Thudong suatu saat dapat dimulai dari Banten menuju Borobudur.
“Mudah-mudahan pada tahun-tahun mendatang perjalanan ini bisa dimulai dari Banten menuju Borobudur,” harapnya.
Sementara itu, Limajatini berharap pesan damai yang dibawa para Bhikkhu dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat. Ia menilai nilai-nilai toleransi dan kebersamaan perlu terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga kegiatan ini membuat kita hidup lebih rukun, damai, dan membawa keberkahan bagi semua,” tuturnya.
Christian Lois juga berharap Indonesia Walk for Peace kembali digelar dengan penyelenggaraan yang lebih besar pada tahun depan. Menurutnya, kegiatan tersebut telah menjadi simbol kuat tentang pentingnya menjaga persaudaraan di tengah keberagaman.
“Sampai jumpa di Indonesia Walk for Peace 2027. Semoga penyelenggaraannya semakin baik, semakin meriah, dan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat,” pungkasnya.
Perayaan Waisak di Universitas Buddhi Dharma tidak hanya menjadi penutup perjalanan para Bhikkhu Thudong, tetapi juga memperkuat pesan perdamaian, toleransi, dan cinta kasih yang mereka bawa. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak untuk terus menjaga kerukunan serta mempererat persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat.










