Sejak kecil banyak dari kita diajarkan untuk selalu berkata jujur. Namun, apakah kejujuran berarti mengungkapkan semua hal tanpa batas? Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada tokoh Open dalam cerpen Jalan Lain ke Roma Karya Idrus.
LENSABANTEN.CO.ID — Idrus merupakan salah satu sastrawan Indonesia angkatan ’45 yang banyak mengangkat persoalan kehidupan masyarakat pada masanya.
Dalam cerpen tersebut, Open digambarkan sebagai sosok yang memegang teguh nilai kejujuran. Sejak kecil, ia dididik oleh ibunya untuk selalu berterus terang dalam segala hal. Bahkan, ibunya pernah berpesan, “Open engkau harus berterus terang dalam segala hal.
Dengan jalan begitu engkau dapat memajukan dunia yang penuh dengan kebohongan ini.” Nasihat tersebut kemudian menjadi prinsip hidup yang dipegang teguh oleh Open. Namun, ia memahami pesan itu secara harfiah.
Baginya, kejujuran berarti mengungkapkan apa pun yang dipikirkan dan dirasakan tanpa mempertimbangkan situasi, tempat, maupun dampaknya terhadap orang lain. Dalam cerpen tersebut, Open digambarkan sebagai sosok yang memegang teguh nilai kejujuran.
Sejak kecil, ia dididik oleh ibunya untuk selalu berterus terang dalam segala hal. Nasihat tersebut kemudian menjadi prinsip hidup yang dipegang teguh oleh Open.
Namun, ia memahami pesan itu secara harfiah. Baginya, kejujuran berarti mengungkapkan apa pun yang dipikirkan dan dirasakan tanpa mempertimbangkan situasi maupun dampaknya terhadap orang lain.
Sikap tersebut terlihat ketika Open bekerja sebagai guru. Ia sering menceritakan persoalan pribadinya kepada murid-murid, termasuk konflik yang terjadi dalam rumah tangganya. Alih-alih memperoleh simpati, cerita tersebut justru menjadi bahan ejekan.
Murid-muridnya memelesetkan cerita yang pernah disampaikan Open hingga menjadikannya bahan candaan yang merendahkan dirinya. Karena Open adalah seseorang yang selalu menuruti kata hati, Open akhirnya melakukan kekerasan terhadap muridnya dan diberhentikan dari pekerjaannya sebagai guru.
Namun, persoalan yang dialami Open tidak berhenti di situ. Dalam berbagai fase kehidupannya, ia terus mengikuti apa yang dianggap benar menurut hati nuraninya tanpa banyak mempertimbangkan akibat yang mungkin muncul.
Keteguhannya dalam memegang prinsip sering kali membawanya pada berbagai konflik dan kesulitan, baik dalam pekerjaan, kehidupan bermasyarakat, maupun rumah tangganya.
Melalui tokoh Open, Idrus seolah ingin menunjukkan bahwa ketidakmampuan Open membedakan kapan sebuah kebenaran perlu disampaikan dan kapan sebuah infromasi lebih baik disimpan atau diungkapkan dengan cara yang lebih tepat, dapat berubah menjadi sesuatu yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Fenomena yang dialami Open tampaknya masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat digital saat ini. Kehadiran media sosial membuat setiap orang memiliki ruang untuk berbicara dan membagikan pengalaman hidupnya kepada publik.
Sayangnya sering kali kita menjumpai unggahan yang justru memuat konflik keluarga, pertengkaran dengan pasangan, masalah pertemanan, hingga berbagai persoalan pribadi yang sebenarnya tidak perlu diketahui banyak orang.
Sebagian orang mungkin menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk kejujuran atau ekspresi diri. Padahal, seperti yang ditunjukkan oleh tokoh Open, mengungkapkan segala hal tanpa batas tidak selalu membawa dampak positif.
Ketika seseorang membagikan terlalu banyak informasi pribadi tanpa mempertimbangkan manfaat maupun konsekuensinya di dunia digital, infromasi yang telah diunggah dapat meninggalkan jejak yang sulit dihapus dan berpotensi disalahgunakan oleh pihak lain di kemudian hari.
Oleh karena itu, sebaiknya saat kita akan mengunggah sesuatu tanyakan pada diri sendiri, apakah informasi ini memang perlu diketahui publik? Apakah unggahan ini akan memberikan manfaat atau justru menimbulkan masalah di kemudian hari? Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu membatasi diri kita agar lebih bijak dalam menggunakan teknologi digital terutama sosial media.
Penulis: Kirana Puti Nurani (Mahasiswa aktif prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)










