TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Tangerang memicu luapan air lindi dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing hingga masuk ke permukiman dan lahan pertanian warga di Perumahan KORPRI RW 05, Kelurahan Kedaung Wetan, Kecamatan Neglasari. Kondisi tersebut membuat warga resah akibat bau menyengat.
Pengurus RT 01 Perumahan KORPRI RW 05, Gilang Ramadhan, mengatakan air lindi mulai menggenangi lingkungan warga setelah intensitas hujan meningkat. Limpasan air tersebut terlihat masuk ke area permukiman dan bertahan di sejumlah titik.
“Kondisi untuk saat ini khususnya di Perumahan Korpri ini, air lindi itu sudah masuk. Dampaknya seperti yang kita lihat di belakang itu sudah masuk ke arah wilayah lingkungan kita sendiri. Itu sudah menggenang,” ujar Gilang kepada awak Jurnalis saat ditemui di lokasi pada Jumat, 23 Januari 2026 sore.
Menurut Gilang, luapan air lindi tidak terjadi setiap hari, namun hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan debit air dari saluran pembuangan meningkat. Kondisi tersebut membuat volume air melampaui kapasitas hingga meluap ke kawasan permukiman.
“Kalau setiap hari sih tidak, tapi intensitas hujan yang tinggi itu membuat debit air dari pembuangan air sampah itu meninggi dan meningkat, sehingga ditambah lagi dengan air lindi jadi meluap,” jelasnya.
Selain mengganggu kenyamanan warga, luapan air lindi juga berdampak pada lahan pertanian. Mimi (67), seorang petani setempat, mengaku kebunnya kerap terendam air limbah setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
“Semalam hujan gede jam satu malam, hujan gede, air limbah muncak ke sini. Kalau setiap hujan ya penuh,” kata Mimi.
Ia menyebut, air limbah yang masuk ke kebun menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dan berujung pada gagal panen. Menurutnya, air lindi terasa panas dan merusak tanaman.
“Kalau masuk ke kebonan mah panas, nggak jadi. Iya gagal panen,” ungkapnya.
Mimi menjelaskan, air lindi tersebut berasal dari kawasan TPA Rawa Kucing dan meluap saat hujan turun dengan intensitas tinggi. Meski saat tidak hujan alirannya masih ada, volumenya tidak sebesar ketika hujan deras.
“Kalau nggak hujan mah nggak penuh, tapi tetap ada sedikit. Itu dari pembuangan sampah, TPA Rawa Kucing,” ujarnya.
Ia mengaku belum pernah menyampaikan keluhan secara resmi kepada pihak pemerintah maupun pengelola TPA. Hingga kini, menurutnya, belum ada petugas yang melakukan pemantauan langsung ke area kebun miliknya.
“Nggak pernah ada yang kontrol ke sini, orang TPA-nya juga nggak pernah keliling,” katanya.
Warga berharap pemerintah dan instansi terkait segera mengambil langkah penanganan agar luapan air lindi tidak terus berulang dan menimbulkan dampak lebih luas, baik terhadap kesehatan lingkungan maupun mata pencaharian masyarakat di sekitar TPA Rawa Kucing.
Sebagai informasi, air lindi merupakan cairan limbah yang berasal dari timbunan sampah dan berpotensi mengandung zat berbahaya jika tidak tertangani dengan baik. Jika meluap ke lingkungan sekitar, air lindi dapat mencemari tanah, air permukaan, serta berdampak pada kesehatan dan aktivitas warga.










