Trump Remehkan Peran NATO, Inggris Ingatkan Pengorbanan Ratusan Tentara

Trump Remehkan Peran NATO, Inggris Ingatkan Pengorbanan Ratusan Tentara

LENSABANTEN.CO.ID —  Pemerintah Inggris menyatakan keberatan atas pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai meremehkan kontribusi pasukan NATO dalam operasi militer di Afghanistan. London menilai pernyataan tersebut tidak mencerminkan fakta sejarah serta mengabaikan pengorbanan besar yang telah diberikan negara-negara sekutu, termasuk Inggris.

Juru bicara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan, Trump keliru dalam menilai peran NATO di Afghanistan, terutama pasca-serangan teror 11 September 2001 di Amerika Serikat. Ia menegaskan, operasi militer tersebut menelan korban jiwa dan luka serius di kalangan prajurit Inggris.

Bacaan Lainnya

“Presiden Trump keliru karena meremehkan peran pasukan NATO, termasuk pasukan Inggris, dalam misi di Afghanistan setelah serangan 11 September,” kata juru bicara tersebut, seperti dikutip AFP.

Ia menambahkan, sebanyak 457 personel militer Inggris gugur selama operasi di Afghanistan. Selain itu, banyak prajurit lainnya mengalami luka berat, bahkan cedera permanen yang mengubah kehidupan mereka, sebagai bentuk pengabdian kepada Amerika Serikat dan sekutu NATO.

Pernyataan Trump itu disampaikan dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis (22/1). Dalam kesempatan tersebut, Trump menyatakan keraguannya terhadap komitmen NATO untuk membantu Amerika Serikat apabila Washington berada dalam kondisi darurat. Ia beralasan, meski NATO mengirim pasukan ke Afghanistan pada 2001, keberadaan mereka disebut berada jauh dari garis depan pertempuran.

“Mereka mengatakan telah mengirim pasukan ke Afghanistan, dan itu benar. Namun, mereka berada agak di belakang, jauh dari garis depan,” ujar Trump, seperti dikutip BBC.

Sebagai catatan, setelah serangan teror Al Qaeda di New York pada 11 September 2001, NATO untuk pertama kalinya mengaktifkan Pasal 5. Klausul tersebut menyatakan bahwa serangan terhadap satu negara anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi NATO.

Inggris menjadi salah satu negara yang bergabung dengan Amerika Serikat dalam operasi militer di Afghanistan. Selama misi tersebut, tercatat 457 tentara Inggris kehilangan nyawa.

Pernyataan Trump menuai kecaman luas di Inggris. Sejumlah menteri, anggota parlemen, hingga kalangan veteran militer menilai pernyataan tersebut tidak menghargai pengorbanan para prajurit.

Menteri Pertahanan Inggris John Healey menegaskan bahwa para tentara Inggris yang gugur di Afghanistan harus dikenang sebagai pahlawan yang mengorbankan nyawa demi bangsa dan sekutunya.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.