KABUPATEN TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Artificial Intelligence (AI) memiliki potensi ganda yang dapat membawa manfaat atau mengancam. Sementara AI dapat menjadi alat untuk mempermudah pekerjaan, di sisi lain, perkembangannya dapat dianggap sebagai ancaman yang dapat menggantikan pekerjaan manusia.
Untuk menggali lebih dalam isu ini, Universitas Multimedia Nusantara (UMN) memilih membahasnya dalam acara wisuda XXV yang berlangsung di ICE BSD dengan tema “Harnessing AI for Competitive Edge: Strategies for Sustainable Workplace Innovation”.
Hammam Riza, Ketua Kolaborasi Riset dan Inovasi Kecerdasan Artifisial Indonesia (KORIKA) dan Perekayasa Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjadi pembicara utama dalam acara tersebut. Hammam membuka presentasinya dengan menggarisbawahi evolusi panjang AI, yang telah mencakup tahap machine learning, deep learning, hingga generative AI saat ini. Ia menyoroti bahwa generative AI tidak hanya memberikan analisis data, tetapi juga mampu menciptakan konten baru.
Hammam juga menyajikan pandangan positif terhadap peluang yang muncul seiring dengan perkembangan AI. Lebih dari itu, ia mengajak 1284 wisudawan untuk melihat AI sebagai alat yang dapat membantu mereka mencapai target perusahaan dan mengembangkan kreativitas.
“Perkembangan AI mendorong inovasi berkelanjutan di dunia kerja dengan meningkatkan efisiensi, akurasi, dan merangsang kreativitas melalui pengolahan data. Lebih dari 70% perusahaan global telah menyatakan niatnya untuk berinvestasi dalam memanfaatkan AI. Pengetahuan tentang AI akan memberikan nilai tambah bagi sumber daya manusia,” ujar Hammam, melansir siaran tertulis, Minggu 14 Januari 2024.
Dalam responsnya terhadap perkembangan AI, Friska Natalia, Wakil Rektor Bidang Akademis UMN, menekankan pentingnya kritisitas mahasiswa dalam menggunakan teknologi ini. Meskipun UMN telah mengadopsi AI dalam pembelajaran sejak Semester Ganjil 2023/2024, Friska menekankan perlunya pendekatan hati-hati dalam mengintegrasikan AI ke dalam lingkungan akademis.
“Di lingkungan pendidikan, kita harus tetap terkini dengan perkembangan zaman. AI bukan ancaman, melainkan peluang untuk mempelajari hal-hal baru yang ada saat ini. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran, kita dapat mengadopsi teknologi AI terkini,” ungkap Friska.
Namun demikian, Friska juga menggarisbawahi bahwa kritisitas mahasiswa terhadap AI penting agar mereka dapat memahami logika ilmiah di balik teknologi ini. Sementara AI bekerja secara otomatis, mahasiswa harus tetap mengasah kemampuan berpikir ilmiah mereka.
Dalam sambutannya, Ninok Leksono, Rektor UMN, menekankan komitmen UMN terhadap perkembangan teknologi. Ia berharap agar lulusan UMN dapat menggali lebih dalam peluang teknologi, termasuk AI, dan menggunakan pengetahuan yang diperolehnya secara bijak di dunia kerja.
“Sementara teknologi, termasuk AI, terus berkembang, UMN akan terus menghasilkan lulusan yang dapat memanfaatkan teknologi dengan bijak dan memberikan dampak positif bagi masyarakat,” kata Ninok.
Wisuda ini bukanlah akhir, tetapi awal bagi lulusan UMN untuk membuktikan keunggulan ilmu yang telah diperolehnya. Ninok juga menekankan pentingnya tidak hanya kecerdasan teknis, tetapi juga perilaku, kerja tim, dan komunikasi antarpribadi yang baik.
AI dan teknologi lainnya akan terus berkembang, dan UMN berkomitmen untuk tetap memimpin dalam menghadapi tantangan ini dengan melahirkan sumber daya manusia yang mampu mengintegrasikan teknologi secara cerdas dan bermanfaat.
BACA JUGA :










