TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Sebuah bangunan bercat dominan biru, kuning, dan merah berdiri di kawasan Taman Ecopark, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang. Bangunan yang diatasnamakan sebagai perpustakaan mini Kota Tangerang itu dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), namun kini justru terlihat tidak beroperasi.
Pintu bangunan tampak terkunci rapat, sementara debu tebal menyelimuti bagian kaca. Kondisi tersebut memicu keprihatinan mahasiswa yang menilai fasilitas publik seharusnya dapat dimanfaatkan masyarakat secara optimal.
Mahasiswa Buka Taman Baca Marhaenis
Sebagai bentuk protes sekaligus mendorong budaya literasi masyarakat, belasan mahasiswa dari Dewan Pimpinan Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) STISNU Nusantara menggelar lapak buku gratis.
Kegiatan tersebut digelar di atas kain terpal, tak jauh dari halaman bangunan perpustakaan mini, pada Rabu, 22 Juli 2026 sore.
Lapak yang diberi nama “Taman Baca Marhaenis” itu menyediakan beragam bahan bacaan untuk masyarakat. Koleksinya mulai dari buku pemikiran kebangsaan Sukarno, karya kritis Tan Malaka, novel Pramoedya Ananta Toer, hingga literatur ekonomi-politik.
Tak hanya menyediakan bacaan untuk orang dewasa, mahasiswa juga menyiapkan buku cerita bergambar, krayon, dan buku mewarnai bagi anak-anak. Kehadiran lapak tersebut diharapkan dapat menjadi ruang alternatif bagi warga untuk membaca dan beraktivitas di kawasan taman.
Ketua DPK GMNI STISNU Nusantara, Muhamad Ridwan, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kritik terbuka kepada Pemerintah Kota Tangerang.
Ia menilai pemerintah daerah belum optimal dalam mengelola dan memanfaatkan aset publik yang telah dibangun menggunakan anggaran daerah.
“Kami miris melihat perpustakaan di taman ini mangkrak dan tidak beroperasi. Padahal, pembangunan fasilitas publik menggunakan uang rakyat yang tidak sedikit. Jika dibiarkan mati begini, sama saja anggaran daerah dibuang sia-sia,” kata Ridwan saat ditemui di lokasi, Rabu sore.
Ridwan juga menepis anggapan yang kerap menyebut rendahnya minat baca masyarakat sebagai penyebab tidak optimalnya fasilitas literasi. Menurut dia, persoalan tersebut justru berkaitan dengan tata kelola, konsep, serta komitmen perawatan setelah pembangunan fisik selesai.
Disambut Antusias Warga
Kehadiran taman baca swadaya yang digelar mahasiswa tersebut mendapat respons positif dari pengunjung Taman Ecopark. Sejumlah warga yang melintas terlihat antusias mendatangi lapak dan memanfaatkan koleksi buku yang disediakan secara gratis.
Rendra (18), warga Karawaci, mengaku terkejut melihat adanya lapak buku tersebut. Ia mengaku selama ini mengira bangunan perpustakaan yang terkunci itu hanya merupakan gudang untuk menyimpan peralatan kebersihan.
“Harusnya Pemkot malu. Masa (pelayanan) kalah gerak dengan mahasiswa yang cuma bermodal terpal?” kata Rendra.
Antusiasme juga terlihat dari anak-anak yang datang ke lokasi dan mengikuti kegiatan mewarnai. Salah satunya Raka (13), warga sekitar yang mengaku senang bisa menikmati fasilitas tersebut bersama teman-temannya.
“Senang ada buku gambar begini, jadi bisa mewarnai bareng,” ujarnya.
Soroti Pengelolaan Fasilitas Publik
Aksi mahasiswa di Taman Ecopark tersebut menyoroti persoalan pembangunan fasilitas publik yang tidak diikuti dengan pengelolaan dan pemanfaatan secara berkelanjutan. Infrastruktur yang telah dibangun menggunakan anggaran daerah dinilai akan kehilangan manfaat apabila tidak dioperasikan dan dirawat dengan baik.
“Kalau membuat fasilitas publik hanya untuk mengejar laporan proyek lalu dibiarkan terbengkalai, untuk apa? Jika pada akhirnya mahasiswa yang harus turun tangan melayani warga, lantas apa fungsi kehadiran dinas terkait?” ujar Ridwan.









