KOTA TANGERANG SELATAN, LENSABANTEN.CO.ID — Nasib malang menimpa salah seorang wali murid di Tangerang Selatan terkait praktik jual beli kursi pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 jenjang SMP. Shahnaz yang merupakan warga Pondok Cabe, Pamulang ini mengaku ditipu oleh oknum yang tidak bertanggung jawab hingga puluhan juta rupiah.
Shahnaz mengatakan alasan Ia melakukan hal tersebut demi memasukkan anaknya ke SMP Negeri 2 Tangerang Selatan dan dekat dari tempat tinggalnya. Alih-alih diterima, upayanya itu ternyata tak membuahkan hasil karena anaknya tak kunjung masuk di sekolah tersebut.
Kasus tersebut bermula saat Ia ditawari oleh temannya sesama wali murid yang bernama Verawati. Ia dijanjikan anaknya bisa diterima di SMPN 2 Tangerang Selatan melalui jalur afirmasi jika membeli kursi senilai Rp12 juta kepada pelaku.
“Jadi awalnya saya ditawari oleh teman saya yang juga wali murid di SD sebelumnya. Ia menawarkan di SMPN 2 dengan uang Rp12 juta,” ungkapnya, Senin 21 Juli 2025.
“Katanya sih dia ini punya kenalan orang Dindik Tangsel yang bisa memasukkan anak saya ke SMP 2 itu. Jadi dia ini hanya menawarkan saja,” sambungnya.
Bermodal kepercayaan, Shahnaz pun menerima tawaran itu dan akhirnya memberikan uang tersebut secara bertahap dengan uang DP Rp4 juta.
“Awalnya ngasih DP 4 juta, terus dia minta-minta lagi sampai Rp10 juta masuk ke rekening atas nama dia. Katanya sih buat di birokrasinya supaya proses penerimaannya lancar,” katanya.
Hingga sehari sebelum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), belum ada kejelasan dari oknum tersebut. Ia pun menaruh curiga bahwa anaknya tidak akan diterima di sekolah tersebut.
Sehingga, Ia pun meminta agar uang yang masuk ke rekening Verawati itu segera dikembalikan. Sebab, uang tersebut akan digunakan untuk mendaftarkan anaknya masuk ke sekolah swasta.
“Saya sudah telpon dia dan datang kerumahnya beberapa kali untuk meminta uang itu. Tapi sampai saat ini, baru Rp3,5 juta yang dia kembalikan,” ucapnya.
Ia berharap agar sisa uang yang diberikan, kembali sepenuhnya untuk memasukkan anaknya ke sekolah swasta. Terlebih, suaminya yang bekerja serabutan itu sudah tidak memiliki uang lagi untuk mendaftarkkan anaknya ke sekolah swasta.
“Saya sedih anak saya kemarin sudah tidak mengikuti MPLS bahkan sampai saat ini dia belum juga bersekolah. Saya berharap agar sisa uangnya itu dikembalikan agar anak saya segera bersekolah,” pungkasnya.
Saat dikonfirmasi melalui whatssapp terkait perihal tersebut, hingga saat ini oknum pelaku Verawati belum merespon.









