Menggugat Iman, Mengusir Saudara

Novel Maryam karya Okky Madasari Sumber: Detik com
Novel Maryam karya Okky Madasari Sumber: Detik com

Ketika kita bicara mengenai perbedaan keyakinan di Indonesia, apa sih yang pertama kali terlintas di pikiran? Apakah ini soal debat pilih ikut Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah?

LENSABANTEN.CO.ID — Sama sekali bukan. Ini bukan tentang dua organisasi besar itu. Ini adalah cerita yang jauh lebih menyedihkan. Tentang bagaimana rasa keimanan mayoritas penduduk Lombok pada awal tahun 2000-an, justru membuat mereka tega mengusir tetangga dan saudara mereka sendiri.

Sebuah masa di mana perbedaan cara beribadah tidak lagi dihadapi dengan obrolan baik-baik, melainkan dengan kemarahan dan pengusiran.

Bacaan Lainnya

Penghancuran Ruang Hidup Perempuan

Di dalam novel ini, kita diajak mengikuti kisah hidup seorang perempuan bernama Maryam. Maryam lahir dan besar di Lombok, di tengah alam yang indah dan keluarga yang hangat. Namun, keluarga Maryam memeluk aliran Ahmadiyah, sebuah keyakinan yang dianggap “sesat” dan berbeda oleh sebagian besar warga di desanya.

Sejak kecil, Maryam sebenarnya merasa sama saja dengan anak-anak lain. Dia main di tempat yang sama dan menganggap Lombok adalah rumahnya. Tapi sayangnya, lingkungan sekitar tidak melihatnya seperti itu. Kebencian warga mulai muncul.

Di sekolah, di pasar, sampai di tempat umum, Maryam dan keluarganya selalu dicap sebagai orang asing. Mereka sering dijauhi, dibisik-bisikkan, dan ditatap dengan penuh curiga hanya karena cara ibadah mereka sedikit berbeda.

Puncaknya, perbedaan ini merusak seluruh hidup Maryam. Supaya bisa hidup tenang dan lepas dari cap buruk itu, Maryam sempat merantau ke Jakarta dan menikah dengan laki-laki dari keluarga biasa (non Ahmadiyah). Tapi, masa lalunya tetap mengejar.

Begitu mertuanya tahu latar belakang keluarga Maryam, mereka memaksa agar Maryam diceraikan. Dengan hati hancur, Maryam terpaksa pulang ke kampung halamannya di Lombok. Tragisnya, saat sampai di rumah, keadaan justru jauh lebih buruk.

Rumah keluarganya diserang, dijarah, dan dihancurkan oleh massa. Maryam dan seluruh keluarganya diusir paksa dari tanah kelahiran mereka sendiri tanpa membawa apa-apa.

Kenyataan Pahit di Lombok

Anak-anak bermain di lapangan Wisma Transito, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sumber: BBC News
Anak-anak bermain di lapangan Wisma Transito, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sumber: BBC News

Apa yang dialami Maryam dalam novel karya Okky Madasari ini sebenarnya bukan cuma karangan fiksi belaka. Cerita ini adalah cerminan nyata dari tragedi memilukan yang beneran terjadi pada komunitas Ahmadiyah di Lombok sejak awal tahun 2000-an hingga sekarang.

Dalam dunia nyata, warga Ahmadiyah di beberapa wilayah Lombok Barat dan Lombok Timur mengalami nasib yang persis sama tragisnya dengan Maryam.

Rumah-rumah mereka dibakar hingga rata dengan tanah, tempat ibadah mereka dirusak, dan mereka dipaksa keluar dari kampung halaman mereka sendiri.

Orang-orang yang tadinya hidup rukun sebagai tetangga selama puluhan tahun, mendadak berubah menjadi musuh hanya karena perbedaan keyakinan.

Diskriminasi yang tidak pernah berujung

Sedihnya lagi, penderitaan mereka tidak berhenti setelah diusir. Sampai bertahun-tahun kemudian, para korban pengusiran ini harus menghadapi tiga masalah besar yang membuat hidup mereka makin telantar seperti:

a) Tinggal di Pengungsian Bertahun-tahun.
Diusir dan rumahnya dihancurkan, ratusan warga Ahmadiyah terpaksa tinggal luntang-lantung di tempat penampungan sementara, seperti Asrama Transito di Mataram. Mereka harus hidup di ruangan sempit yang seadanya dalam waktu yang sangat lama.

b) Cap Buruk yang Turun-temurun
Cap “sesat” dari masyarakat luar terus menempel pada mereka. Efeknya terjadi pada anak-anak mereka sering kali diejek dan dijauhi (bullying) di sekolah, dan mereka kesulitan untuk berbaur lagi dengan masyarakat umum.

c) Di persulit dalam hal apapun, mereka juga kesulitan mendapatkan hak dasar sebagai warga negara. Mengurus KTP susah, mengurus surat nikah sulit, sampai mencari pekerjaan pun jadi terhambat hanya karena identitas mereka.

Tragedi yang dialami Maryam dan warga Ahmadiyah di Lombok adalah alarm keras bagi toleransi di Indonesia. Sampai hari ini, masih banyak saudara-saudara kita yang belum bisa pulang ke rumah mereka sendiri hanya karena berbeda cara berdoa.

Menurutmu, apa langkah terbaik yang harus dilakukan masyarakat dan pemerintah agar kejadian seperti di novel Maryam ini tidak terulang lagi di masa depan?

Ditulis oleh : Putri Irnawati mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.